New Policy: Pemilahan di hulu kunci pembenahan pengelolaan sampah di Jakarta
Pemilahan Sampah di Hulu: Kunci Perbaikan Pengelolaan di Jakarta
Dalam upaya meningkatkan pengelolaan sampah, Jakarta menghadapi tantangan besar. Menurut para pihak, solusi utama terletak pada pengurangan dan pemilahan sampah di sumber awal, bukan hanya pengangkutan ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Peristiwa longsor di TPST tersebut menjadi momentum penting untuk menegaskan fokus perbaikan sistem pengelolaan sampah secara mendalam.
Sampah Jakarta: Angka yang Membuat Perubahan
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta melaporkan produksi sampah harian kota mencapai 7.500 ton, dengan kemungkinan meningkat hingga 8.000 ton pada masa tertentu. Data ini menunjukkan bahwa pengurangan dari sumber adalah langkah krusial untuk mengatasi masalah limbah di hilir. TPST Bantargebang, yang selama 37 tahun beroperasi, kini hanya akan menerima sampah residu, mengakhiri tugasnya menampung seluruh sampah Ibu Kota yang totalnya mencapai 80 juta ton.
Regulasi dan Partisipasi Komunitas
Untuk mendorong partisipasi masyarakat, Pergub Nomor 77 Tahun 2020 diterbitkan, yang menetapkan pengelolaan sampah berbasis rukun warga. Langkah awalnya adalah pembentukan Bidang Pengelolaan Sampah Lingkup Rukun Warga (BPS RW). Sampai akhir 2025, sebanyak 2.755 BPS RW terbentuk, dengan 2.351 di antaranya aktif, atau 85,34 persen dari total. Kegiatan seperti pemilahan sampah, 3R (reduce, reuse, recycle), pengolahan organik, dan bank sampah RW menjadi bagian dari implementasi ini.
Kemajuan dan Tantangan
Dari data Sistem Informasi BPS RW, 236.494 rumah tangga telah memilah sampahnya, mencapai 11,47 persen dari total, melebihi target 11 persen untuk triwulan IV 2025. Meski begitu, kebiasaan ini masih perlu ditingkatkan melalui aturan yang mengikat.
“Pemilahan sampah harus menjadi kewajiban, bukan sekadar kebiasaan,”
tandas DLH. Langkah sederhana seperti memilah sampah ke kategori mudah terurai, daur ulang, dan residu serta memanfaatkan barang bekas bisa menjadi awal perubahan.
Masa Depan Pengelolaan Sampah
Pengelolaan sampah yang lebih efisien memerlukan keterlibatan aktif warga. Dengan regulasi yang diperkuat dan kesadaran komunitas, Jakarta berharap mencapai sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Upaya ini menunjukkan bahwa perbaikan tidak hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi juga kebiasaan sehari-hari masyarakat dalam memilah limbah.