BRIN kembangkan teknologi olah gula semut dari sorgum – alternatif gula

BRIN Kembangkan Teknologi Olahan Gula Semut dari Sorgum, Alternatif Gula

Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah menguji teknologi pengolahan gula semut berbasis nira sorgum manis. Inovasi ini bertujuan menciptakan sumber gula alternatif yang bisa meningkatkan nilai tambah bahan pangan lokal. Peneliti BRIN, Sandi Darniadi, menjelaskan bahwa sorgum dipilih karena memiliki potensi sebagai bahan baku pangan dan energi, meski belum dimanfaatkan secara optimal.

Manfaat Pemanfaatan Sorgum

Sorgum termasuk dalam keluarga tanaman yang sama dengan tebu, namun lebih fleksibel dalam penggunaannya. Selain untuk produksi gula, bahan ini juga bisa digunakan sebagai bahan baku bioetanol dan pakan ternak. Semua bagian tanaman, mulai dari batang hingga daun, bisa dimanfaatkan secara efisien, kata Sandi.

“Sorgum memiliki keunggulan dalam pemanfaatan bagian tanaman. Selain gula, bisa diolah menjadi bioetanol hingga pakan. Semua komponen bisa dimanfaatkan secara maksimal,” ujar Sandi Darniadi.

Proses Pengolahan Gula Semut

Pengolahan gula semut dari sorgum melibatkan beberapa tahap dengan alat terintegrasi. Proses dimulai dari pemerasan batang tanaman menggunakan mesin roller press, yang menghasilkan nira. Dari 100 kg batang, rata-rata dihasilkan 20 liter nira, tergantung kondisi lingkungan dan tanaman.

Langkah berikutnya terbagi dua metode. Pertama, nira diolah dengan mesin vacuum evaporator untuk menghasilkan sirup. Metode ini bekerja pada suhu 60–70 derajat Celsius dalam sistem tertutup. Kedua, nira diubah menjadi gula semut melalui open pan cooker, yang beroperasi pada suhu 90–100 derajat Celsius.

Pemasakan pada open pan cooker memakan waktu 3–5 jam untuk 15 liter nira, sesuai kadar gula awal. Proses ini mengurangi kadar air hingga 5–6 persen, membentuk kristal gula. Setelah itu, gula menggumpal dikeringkan kembali dengan oven dehydrator, lalu dihancurkan menggunakan crusher untuk menghasilkan gula semut siap kemas.

Keunggulan Teknologi BRIN

Sandi menyoroti efisiensi energi sebagai keunggulan utama teknologi ini. Dibandingkan metode tradisional yang menggunakan kayu bakar, BRIN mengadopsi gas sebagai sumber panas, yang lebih hemat dan mudah dikontrol. Selain itu, peralatan dirancang dengan material stainless steel food grade, sehingga lebih higienis dan memenuhi standar keamanan pangan.

Desain alat juga modular dan portabel, memungkinkan penggunaan di berbagai skala. Kapasitas maksimal per proses sekitar 30 liter nira menjadikannya cocok untuk kelompok tani atau usaha kecil di daerah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *