BRIN: Waspada potensi kembalinya wabah pes di Indonesia

BRIN: Waspada potensi kembalinya wabah pes di Indonesia

Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi di bawah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan masyarakat Indonesia mengenai kemungkinan munculnya kembali wabah penyakit pes. Peneliti dari lembaga tersebut, Ristiyanto, menyatakan bahwa meski tidak ada laporan kasus pada manusia dalam beberapa tahun terakhir, penyakit ini masih berpotensi kembali karena adanya silent period—masa di mana penyakit tidak terdeteksi selama waktu lama namun tetap bisa muncul kembali.

“Ada istilah silent period, yaitu masa ketika suatu penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, tetapi sebenarnya masih berpotensi muncul kembali,” kata Ristiyanto dalam pernyataannya di Jakarta, Senin.

Ristiyanto menambahkan, fenomena ini didukung oleh penemuan bakteri penyebab pes dan vektor serta reservoirnya, seperti pinjal dan tikus, yang masih ditemukan di daerah enzootik tertentu. Ia menjelaskan bahwa perubahan lingkungan, termasuk deforestasi, alih fungsi lahan, dan pertumbuhan populasi, telah mengganggu ekosistem, sehingga habitat tikus semakin dekat dengan permukiman manusia. Hal ini meningkatkan kemungkinan penularan melalui gigitan pinjal yang membawa bakteri.

Perubahan iklim memperkuat risiko penyebaran penyakit

Peneliti lain dari BRIN, Muhammad Choirul Hidajat, menegaskan bahwa perubahan iklim berkontribusi terhadap peningkatan jumlah pinjal, vektor pes. “Kombinasi perubahan lingkungan, keberadaan vektor dan reservoir, serta intensitas interaksi manusia, menciptakan risiko utama yang perlu diwaspadai,” ujar Choirul.

“Ketiadaan kasus tidak berarti penyakit sudah hilang sepenuhnya,” tambah Choirul.

Choirul menyoroti bahwa tikus tetap menjadi reservoir utama bakteri Yersinia pestis, yang masih banyak ditemukan di berbagai wilayah Indonesia. Meski tidak ada laporan wabah pada manusia dalam lebih dari satu dekade, beberapa daerah di Pulau Jawa, seperti Kabupaten Pasuruan, Boyolali, Sleman, dan Bandung, tetap dianggap sebagai area berisiko. Untuk mencegah potensi wabah, ia merekomendasikan peningkatan sistem pemantauan terpadu, yang mencakup observasi pada manusia, hewan, dan vektor penyakit.

Dalam upaya pencegahan, sanitasi lingkungan dan pengawasan terhadap wilayah bekas endemis juga dianggap penting. BRIN menekankan perlunya antisipasi dini untuk menghindari kembalinya penyakit yang pernah menghancurkan sejumlah daerah di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *