New Policy: BI Tegaskan Harga BBM Tak Naik Bisa Bikin Rupiah Terjaga
BI: Stabilisasi Harga BBM Bersubsidi Membantu Kurs Rupiah
Di tengah ketidakpastian pasar keuangan, Bank Indonesia (BI) mempertahankan pendirian bahwa kebijakan pemerintah dalam mengendalikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, seperti Pertalite, memiliki dampak positif terhadap stabilitas nilai tukar rupiah. Hal ini ditekankan oleh Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior BI, dalam wawancara dengan CNBC Indonesia selama Central Banking Forum 2026 di Jakarta, Senin (13/4/2026).
DXY Mengukur Kekuatan Dollar AS
Destry menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak disebabkan oleh penguatan indeks dolar (DXY), yang mencerminkan kekuatan greenback terhadap mata uang utama dunia. Pada pukul 09.00 WIB, DXY menguat 0,37% ke level 99,010, mencerminkan intensitas spekulasi yang terjadi akibat konflik geopolitik. Investor kembali memburu aset aman setelah negosiasi antara Washington dan Tehran belum menghasilkan kesepakatan yang menenangkan.
Pergerakan Kurs Rupiah Pada Pekan Ini
Rupiah dibuka melemah 0,09% ke Rp17.100 per dolar AS pada perdagangan awal pekan ini. Pelemahan ini terjadi setelah rupiah ditutup pada posisi Rp17.085 per dolar AS dengan penurunan 0,03% di hari Jumat (10/4/2026). Meski demikian, Destry menyoroti bahwa tidak hanya Indonesia yang mengalami depresiasi, melainkan beberapa negara lain juga mengalami tekanan serupa.
Konteks Konflik Timur Tengah
Kondisi pasar global yang tidak pasti semakin diperparah oleh konflik Timur Tengah antara Iran, AS, dan Israel. Pertarungan ini mengganggu jalur perdagangan minyak utama, yakni Selat Hormuz, sehingga memengaruhi harga minyak mentah. Kebijakan menjaga harga BBM bersubsidi di dalam negeri, menurut Destry, menjadi alat untuk memperkuat posisi rupiah di tengah ketegangan tersebut.
“Pemerintah tidak naikkan harga BBM ini positif jaga rupiah ke depannya,” ujar Destry Damayanti dalam wawancara CNBC Indonesia. “Apakah Indonesia sendirian? Enggak. Sejak adanya serangan di Iran beberapa negara ada depresiasi dalam. Kita juga minus 1,91% di posisi year to date. Pergerakan nilai tukar tidak sendirian.”