Historic Moment: Rupiah Melemah Setelah Perang Iran, Tapi Banyak yang Lebih Buruk

Rupiah Melemah Setelah Perang Iran, Tapi Banyak yang Lebih Buruk

Jakarta, Krisis global kembali memberi tekanan pada pasar mata uang negara-negara berkembang, khususnya terhadap aset-aset yang rentan. Sejak konflik Timur Tengah meletus di akhir Februari 2026, aliran modal keluar dari pasar negara-negara berkembang meningkat, dolar AS menguat, dan mata uang berisiko mengalami tekanan. Rupiah juga turun, tetapi skalanya masih lebih ringan dibandingkan beberapa pesaing utamanya.

Menurut Bank Indonesia, dari akhir Februari hingga 6 April 2026, rupiah melemah sebesar 1,91% ke level spot 17.042 per dolar AS. Angka ini lebih baik dibandingkan won Korea Selatan yang anjlok 5,0%, baht Thailand 4,0%, rupee India 3,6%, lira Turki 3,5%, rand Afrika Selatan 2,3%, hingga peso Filipina 2,3%. Artinya, meski tekanan mulai terasa, investor belum menempatkan rupiah dalam kategori terlemah.

Pasar tetap membedakan negara dengan fondasi ekonomi yang relatif stabil dan negara yang lebih rentan terhadap risiko eksternal. Sepanjang 2026, pelemahan rupiah mencapai 2,39%. Meski demikian, posisinya masih lebih baik dibandingkan beberapa negara Asia, terutama rupee India dan won Korea Selatan. Kedua mata uang tersebut dikenal sebagai pemain utama dan likuid di kawasan ini.

“CNBC Indonesia Research”

Faktor utama yang memperkuat rupiah adalah penurunan inflasi domestik. Inflasi Maret 2026 mencatatkan 3,48%, lebih rendah dari Februari yang mencapai 4,76%. Selain itu, Bank Indonesia terus berperan dalam menjaga keseimbangan pasar valuta asing dan obligasi. Permintaan internal Indonesia juga tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi, meski dampak global terus menggerogoti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *