Key Discussion: “Sekutu” Trump-Putin Tumbang, Terdepak dari Kursi PM Negara NATO Ini
Sekutu Trump-Putin Tumbang, Terdepak dari Kursi PM Negara NATO Ini
Pemilu di Hungaria berujung pada kemenangan Partai Tisza yang dipimpin Péter Magyar, mengakhiri masa kepemimpinan Perdana Menteri Viktor Orbán yang berlangsung selama 16 tahun. Hasil ini dianggap sebagai perubahan besar, yang diperkirakan akan memengaruhi hubungan Hungaria dengan Gedung Putih serta membuka kembali jalan bagi integrasi dengan Uni Eropa (UE).
Kekalahan Orbán dan Kemenangan Tisza
Kurang dari tiga jam setelah pengumuman suara, Orbán langsung mengakui kekalahan. Ia menyebut hasil ini sebagai sesuatu yang menyakitkan tetapi tetap sah. “Saya mengucapkan selamat kepada partai yang menang. Kami akan melayani bangsa Hungaria dari posisi oposisi juga,” ujarnya di hadapan pendukung di Budapest.
“Malam ini, kebenaran menang atas kebohongan. Hari ini, kita menang karena rakyat Hungaria tidak bertanya apa yang bisa dilakukan tanah air untuk mereka – mereka bertanya apa yang bisa mereka lakukan untuk tanah air mereka. Anda menemukan jawabannya. Dan Anda menindaklanjutinya,”
Dengan 98,74% data perhitungan suara, Tisza diperkirakan memperoleh 138 dari 199 kursi di parlemen, memberikan mereka mayoritas mutlak. Status ini memungkinkan perubahan konstitusi dan undang-undang, termasuk membatalkan kebijakan Orbán dan partai Fidesz serta memperbaiki akses dana UE yang sempat dibekukan. Fidesz hanya mendapat 55 kursi, sementara partai ekstrem sayap kanan Mi Hazánk menambahkan enam kursi.
Konteks Global dan Reaksi Politik
Pemilu ini menjadi ujian bagi gerakan MAGA dan sayap kanan global, di mana Orbán sebelumnya dianggap tokoh inspiratif. JD Vance dan Donald Trump sempat mendukung Orbán, dengan Trump menjanjikan kekuatan ekonomi AS jika ia terpilih kembali. Namun, Hakeem Jeffries dari Partai Demokrat menilai hasil ini sebagai tanda buruk bagi kubu Trump.
“Otoriter sayap kanan Viktor Orbán telah kalah dalam pemilu. Penjilat Trump dan ekstremis MAGA di Kongres akan menyusul pada bulan November. Musim dingin akan tiba,”
Kemenangan Magyar terjadi saat Orbán tetap mempertahankan hubungan dengan Rusia, terutama dalam konteks ketegangan Ukraina. Orbán, yang aktif menentang bantuan perang Benua Biru untuk Kyiv, sering dikaitkan dengan Vladimir Putin. Pemimpin Eropa lainnya menyambut hasil ini dengan antusias. Giorgia Meloni dari Italia menyatakan kerja sama berkelanjutan meski menghormati Orbán.
“Saya berterima kasih kepada sahabat saya Viktor Orbán atas kolaborasi intens selama bertahun-tahun, dan saya tahu dia akan terus melayani bangsanya, juga dari pihak oposisi,”
Ketegangan antara Budapest dan Brussels yang memuncak akibat veto Orbán terhadap bantuan Ukraina diprediksi berkurang. Ursula von der Leyen, Presiden Komisi Eropa, menyebut perubahan ini sebagai kembalinya Hungaria ke jalur UE. “Jantung Eropa berdetak lebih kuat di Hungaria malam ini. Sebuah negara merebut kembali jalur Eropanya. Uni Eropa tumbuh lebih kuat,” kata von der Leyen.
Donald Tusk dari Polandia menegaskan keinginan untuk kembali bersama dengan Hungaria. “Kemenangan yang mulia, teman-teman terkasih! Orang Rusia, pulanglah!” tulisnya di media sosial. Emmanuel Macron dan Friedrich Merz dari Jerman juga menunjukkan kesiapan bekerja sama dengan Magyar. Dari Ukraina, Presiden Volodymyr Zelensk mengapresiasi perubahan ini.