Key Issue: Jalan sempit itu bernama Gang Tempe
Jalan sempit itu bernama Gang Tempe
Berada di sudut Jalan Haji Aom, Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Gang Tempe tak hanya sekadar jalanan sempit. Namun, tempat ini telah menjadi simbol usaha kecil yang bertransformasi. Bau khas kedelai yang difermentasi menyelimuti area tersebut, menjelma menjadi sumber penghasilan bagi warga setempat.
Sejarah Awal
Perkembangan di Gang Tempe dimulai pada tahun 1983. Seorang pemuda dari Pekalongan, Joko Asori (57), memulai karier sebagai karyawan pabrik tempe murni. Tidak terduga, langkah kecilnya menjadi bagian dari sejarah sentra produksi tempe. “Kami awalnya hanya pekerja, tetapi berkat usaha, akhirnya bisa mandiri,” tutur Joko.
Perkembangan Produk
Seiring waktu, komunitas kecil pengrajin tempe mulai berkembang. Mereka berbagi teknik dan semangat bertahan hidup di tengah kota besar. Pada 2011, perubahan berarti terjadi. Ibu Haji Tina, seorang produsen, membawa ide baru setelah berkunjung ke Jawa Tengah. Keripik tempe, yang sebelumnya tidak terpikirkan, ternyata lebih diminati.
Dukungan Eksternal
Bantuan dari BRI pada 2021 memberikan dorongan signifikan. Institusi tersebut menyarankan pembentukan klaster produksi untuk memudahkan akses peralatan seperti mesin pemotong. Dengan dukungan ini, jumlah pengrajin meningkat dari segelintir orang menjadi sekitar 37 orang. Keripik tempe Mama Tina menjadi percontohan, diikuti oleh produksi dari Pak Joko, Timoti, dan lainnya.
Peluang Global
Produk dari Gang Tempe kini tidak hanya terjangkau di pasar lokal, tetapi juga menembus ekspor. Tempe chips dikirim ke Asia dan Timur Tengah, membuktikan usaha rumahan memiliki potensi menjadi bisnis internasional. Meski demikian, tantangan tetap menghantui. Kenaikan harga bahan baku seperti kedelai, minyak goreng, dan plastik menjadi keluhan utama, sementara harga jual produk cenderung stagnan.
“Awalnya kami hanya karyawan. Tapi seiring waktu, kami belajar dan akhirnya bisa mandiri,” kata Joko.
Kampung ini kini menjadi contoh sukses usaha kecil yang beradaptasi. Dari satu-dua pengrajin, kini muncul komunitas yang saling mendukung. Tiap produsen memiliki pelanggan unik, mulai dari pasar tradisional hingga kalangan perkantoran. Transformasi ini mengubah wajah ekonomi kawasan, menjadikan Gang Tempe lebih dari sekadar jalan sempit.