IDAI bagikan kiat menangani anak yang alami hipotermia

IDAI bagikan kiat menangani anak yang alami hipotermia

Dalam wawancara dengan ANTARA di Jakarta, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyampaikan panduan mengatasi hipotermia pada anak. “Anak bukanlah versi kecil dewasa, jangan menganggap daya tahan tubuhnya sama dengan orang dewasa. Terlebih jika membawa si kecil ke daerah gunung, karena mereka sangat rentan kehilangan cairan tubuh,” jelas Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI Dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subs. ETIA (K).

Persiapan pakaian dan cara pemanasan

Menurut Yogi, penyebab utama hipotermia pada anak, terutama bayi di bawah tiga tahun, adalah pakaian yang basah akibat paparan cuaca lama. “Langkah pertama yang direkomendasikan adalah dengan membuka baju anak dan mengeringkan tubuhnya, karena pakaian basah akan mempercepat hilangnya panas dari tubuh,” kata dia. Pemanasan selanjutnya dilakukan dengan cara tubuh anak bersentuhan langsung dengan tubuh orang tua (skin to skin) untuk meningkatkan suhu secara perlahan. “Teknik ini mirip dengan Kangoroo Mother Care (KMC) yang umum diaplikasikan di Afrika, tetapi di Indonesia lebih cocok untuk bayi prematur,” tambahnya.

“Kita lakukan dalam kondisi tubuh sama-sama kering ya,” ujar Yogi. “Suhu tubuh dewasa biasanya sekitar 37 derajat Celcius, jadi dengan kontak langsung ini, anak bisa mendapatkan panas secara alami.”

Orang tua juga dianjurkan menutup bagian luar tubuh anak dengan kain kering. Penggunaan aluminium foil bisa dipertimbangkan, namun bertujuan mencegah kehilangan panas yang lebih parah. Selain itu, memastikan anak tidak dehidrasi menjadi hal penting. Yogi menyarankan orang tua yang ingin memperkenalkan anak ke alam luas sebaiknya mulai berlatih secara bertahap dan intensitas pendakian yang aman. “Jangan langsung naik gunung tinggi. Hiking dulu, lalu evaluasi kemampuan si anak setiap minggu,” katanya.

Di sisi lain, Ketua Pengurus Pusat IDAI DR. Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio (K) mengkritik kasus hipotermia yang terjadi pada bayi berusia 1,5 tahun di Semarang, Jawa Tengah. “Membawa batita naik gunung dengan cuaca ekstrem, seperti hujan, basah, atau terlalu panas, bisa berisiko tinggi,” tambahnya. Piprim menekankan perlunya kesadaran orang tua dalam memprioritaskan keamanan anak saat beraktivitas di lingkungan alam.

Sebelumnya, seorang bayi perempuan usia 1,5 tahun tercatat mengalami hipotermia ketika didampingi orang tuanya mendaki Gunung Ungaran, Semarang, pada Sabtu (11/4). Diduga kondisi ini terjadi karena perubahan cuaca mendadak menjadi ekstrem. Dalam video yang diunggah melalui YouTube @basarnasofficial pada Minggu (12/4), tim evakuasi melaporkan bayi ditemukan dengan suhu tubuh menurun drastis dan kritis. Anak tersebut terus menangis dengan tanda-tanda kedinginan yang parah. Setelah diperlakukan oleh tim SAR, kondisi bayi perlahan membaik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *