BI Jaga Daftar Investor Ini Supaya Modal Asing Gak Kabur-Rupiah Stabil
BI Jaga Daftar Investor Ini Supaya Modal Asing Gak Kabur-Rupiah Stabil
Pada hari ini, tekanan terhadap nilai tukar rupiah terlihat bergerak ke level Rp 17.100 per dolar AS. Peristiwa ini dikaitkan dengan aliran dana asing yang keluar dari pasar negara berkembang menuju negara-negara maju, khususnya Amerika Serikat. Tren ini terbukti dari kenaikan tajam indeks dolar, DXY, yang mencapai 0,37% ke level 99,01. Menurut data Refinitiv, mata uang Garuda diperdagangkan di Rp 17.100 per dolar AS, atau melemah 0,09% dibandingkan penutupan perdagangan pekan lalu.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI) Erwin Gunawan Hutapea menjelaskan, di Indonesia, outflow terutama berasal dari investor jangka pendek. Kelompok ini biasanya mengambil keputusan cepat saat ada risiko sentimen, seperti konflik antara Iran dan Amerika Serikat serta Israel. “Investor berjangka pendek lebih sensitif terhadap perubahan sentimen. Mereka melakukan perhitungan terhadap return, profit mata uang, dan hedging. Jika hasilnya kurang memuaskan, mereka keluar sementara. Tapi ketika ada perubahan arah, mereka kembali masuk,” ujar Erwin dalam Central Banking Forum 2026 CNBC Indonesia, Senin (13/4/2026).
“Real money mereka lihat kepastian, prospek jangka panjang, umumnya dana pensiun, central bank, SWF. Ini kita perlu jaga agar tipe seperti ini tidak keluar. Biasanya kalau tipe ini keluar artinya ada persoalan perspektif fundamental ekonomi kita,” tegas Erwin.
Meski ada tekanan, Erwin memastikan bahwa pergerakan rupiah terhadap mata uang negara lain tetap stabil. Meskipun dalam tren penurunan, depresiasi rupiah sampai pekan ini hanya mencapai 2,91%. Data BI menunjukkan, depresiasi tersebut lebih baik dibandingkan beberapa negara, seperti Korea Won (2,85%), India Rupee (3,08%), dan Turki Lira (3,69%).
Menurut catatan BI, indeks volatilitas rupiah masih terendah dibandingkan tujuh negara lainnya. Besarnya volatilitas hanya 4,75%, dibandingkan India Rupee 8,92%, Filipina Peso 10,55%, Thailand Baht 12,40%, Meksiko Peso 13,20%, Brazil Real 13,69%, Argentina Peso 14,50%, dan Afrika Selatan Rand 16,34%. Stabilitas ini menunjukkan kepercayaan investor jangka menengah hingga panjang terhadap fondasi ekonomi dan nilai rupiah.