Key Strategy: PP Muhammadiyah bangun pabrik cairan infus, target operasi 2028

PP Muhammadiyah Mulai Bangun Pabrik Cairan Infus, Target Operasi Akhir 2028

Pembangunan pabrik cairan infus oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah tengah dipersiapkan untuk meningkatkan ketangguhan sektor kesehatan di lingkungan organisasi. Proyek ini akan dijalankan melalui entitas bisnis baru, yaitu PT Suryavena Farma Indonesia, yang bertujuan memastikan kebutuhan medis dapat dipenuhi secara mandiri.

Motivasi Perluasan Kemandirian Kesehatan

Direktur Utama PT Suryavena Farma Indonesia, Tatat Rahmita Utami, mengatakan bahwa Muhammadiyah selama ini dominan di bidang kesehatan dan pendidikan. Namun, untuk alat kesehatan dan obat-obatan, masih bergantung pada pihak eksternal. “Kebutuhan internal cukup besar, tetapi suplai terbatas karena menumpang di pabrik lain,” ujarnya.

“Karena masih menumpang di pabrik lain, ada keterbatasan suplai. Padahal kebutuhan di internal Muhammadiyah cukup besar,” ujarnya.

Permintaan Tinggi di Pasar Luas

Pabrik ini akan berlokasi di Karangploso, Malang, Jawa Timur. Area tersebut dipilih karena menjadi pusat industri cairan infus nasional. Lahan seluas 14 hektare telah diuji kelayakan, termasuk kualitas air. Hasilnya memenuhi standar untuk pembangunan pabrik.

Persiapan dan Target Operasi

Tatat menyebutkan bahwa produksi cairan infus Suryavena selama dua tahun terakhir dilakukan melalui kerja sama dengan pabrik lain. Ini menyebabkan kendala dalam konsistensi pasokan. Untuk mengatasi hal tersebut, Muhammadiyah berencana membangun pabrik sendiri.

Ia menargetkan proyek dapat dimulai segera, dengan operasional diperkirakan berlangsung akhir 2027 atau awal 2028. Pendanaan akan berasal dari kombinasi investor dan perbankan. Studi kelayakan sudah dilakukan dengan melibatkan ITB, serta dukungan konsultan keuangan untuk merancang pembiayaan.

Proyeksi Kapasitas Produksi

Kapasitas pabrik ditetapkan mencapai 15 juta botol per tahun. Sebanyak 13 juta botol akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan internal organisasi, sementara 2 juta lainnya berpotensi dijual ke pasar umum. Permintaan terhadap produk Suryavena, menurut Tatat, cukup tinggi karena menawarkan harga kompetitif dengan kualitas yang baik.

“Bahkan di luar rumah sakit Muhammadiyah sudah banyak yang berminat, tetapi saat ini masih terbatas karena kapasitas produksi belum optimal,” ujarnya.

Dengan pabrik ini, Muhammadiyah berharap mampu memperkuat keberlanjutan sektor kesehatan dan menekan ketergantungan pada pihak luar. Proyek juga diharapkan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar serta meningkatkan akses layanan kesehatan secara lebih merata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *