Sport

Special Plan: Drifter Kembar 13 Tahun Gegerkan Kejurnas Passion Drift 2026: 1 Juara, 1 Top Qualifier

Drifter Kembar 13 Tahun Gegerkan Kejurnas Passion Drift 2026: 1 Juara, 1 Top Qualifier Remaja Kembar Torehkan Sejarah Baru di Kompetisi Nasional Special Plan

Desk Sport
Published Mei 25, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Drifter Kembar 13 Tahun Gegerkan Kejurnas Passion Drift 2026: 1 Juara, 1 Top Qualifier

Remaja Kembar Torehkan Sejarah Baru di Kompetisi Nasional

Special Plan – BANDUNG – Aksi mengejutkan terjadi di arena drifting Indonesia saat dua remaja kembar berusia 13 tahun, Alby Alvaro dan Athariz Fairell, memperlihatkan kemampuan luar biasa di Kejurnas Passion Drift 2026 kelas PRO AM. Mereka bukan hanya menjadi sorotan penonton, tetapi juga menantang dominasi pembalap berpengalaman yang sebelumnya menguasai gelaran ini. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa masa depan olahraga drifting nasional kini tidak lagi terbatas pada para pro player yang lebih tua, melainkan juga dikuasai oleh generasi muda yang berbakat.

Sebagai salah satu even tertua dalam olahraga drifting Indonesia, Passion Drift 2026 menawarkan tantangan tersendiri bagi peserta. Kejurnas ini menarik ribuan penggemar dan para drifters dari berbagai tingkatan. Namun, dalam putaran kedua, kemenangan Alby dan Athariz menciptakan perubahan dramatis dalam dinamika kompetisi. Dua saudara kembar ini tidak hanya menghadirkan tontonan menarik, tetapi juga membangkitkan harapan baru bagi pengembangan olahraga ini di Tanah Air.

Pembinaan yang intensif menjadi kunci kesuksesan Alby dan Athariz. Dalam beberapa bulan terakhir, mereka mendapatkan bimbingan dari Reindy Riupassa, seorang pelatih berpengalaman yang dikenal karena kemampuannya dalam melatih drifters. Program latihan yang dipersonalisasi menggabungkan teknik dasar, pengendalian mobil, serta strategi balap yang canggih. Bimbingan ini membantu kedua saudara mengatasi rintangan khusus, seperti mengelola kecepatan maksimal pada mobil berkekuatan tinggi.

Alby Alvaro, yang menjadi juara pertama di seri Bandung, menunjukkan performa mengesankan dengan menggunakan BMW E90 yang di-modifikasi oleh BTX Concept. Mesin M54B30-nya diperkuat dengan teknologi balap modern yang didukung oleh Kendali Racing Team. Strategi yang cermat dalam mengatur kecepatan dan sudut drift membuatnya mampu menaklukkan lintasan Husein Sastranegara. Meski masih di bawah usia 18 tahun, Alby mampu menciptakan rutin akselerasi dan manipulasi kemudi yang stabil sepanjang babak kompetisi.

“Kemampuan Alby dan Athariz menunjukkan bahwa teknik drifting tidak hanya bergantung pada pengalaman, tetapi juga latihan yang terstruktur,” kata Reindy Riupassa, pelatih yang mendampingi kedua saudara kembar. “Mereka mampu merangkai gerakan berkesinambungan dengan presisi tinggi, meski usia mereka masih sangat muda.”

Sementara itu, Athariz Fairell memperlihatkan tajinya sendiri dengan mengemudikan BMW F22 yang menggunakan mesin LS3 dari P5 Tuning. Mobil ini didukung oleh tim BRIDE IDN dan GT Radial, yang memberikan performa optimal dalam berbagai kondisi lintasan. Athariz memasuki babak pertama dengan kepercayaan diri yang tinggi, serta kemampuan mengatur torsi dan kecepatan mesin yang sangat baik. Teknik driftingnya yang dinamis menciptakan akselerasi yang terukur, memperlihatkan bagaimana keduanya mampu beradaptasi dengan kendaraan berperforma tinggi.

Di bawah instruksi Reindy, Alby dan Athariz belajar teknik dasar seperti pengendalian kemudi, pemanfaatan kekuatan mesin, dan pengaturan aerodinamika. Program latihan ini memadukan latihan fisik, pengendalian emosi, dan analisis video rekaman balapan. Selama beberapa bulan terakhir, mereka menghabiskan waktu berjam-jam di bengkel dan sirkuit untuk memperbaiki teknik serta memahami dinamika lintasan. Hasilnya, keduanya mampu menunjukkan kemampuan yang sejajar dengan drifters senior, bahkan di kelas PRO AM yang dianggap sangat kompetitif.

Alby dan Athariz menempatkan diri mereka sebagai contoh nyata dari pergeseran generasi dalam olahraga drifting. Kedua saudara kembar ini menunjukkan bahwa keberhasilan tidak selalu bergantung pada usia, tetapi juga pada motivasi dan kerja keras. Di sirkuit Husein Sastranegara, mereka mengejutkan banyak orang dengan akselerasi dan kestabilan yang terukur. Meski terlihat muda, teknik mereka memperlihatkan kesadaran penuh akan kekuatan mobil dan kebutuhan keseimbangan pada saat berakselerasi.

Masa depan drifting Indonesia kini tampak lebih cerah karena kehadiran Alby dan Athariz. Mereka tidak hanya menghadirkan permainan yang menarik, tetapi juga memberikan inspiarsi untuk generasi muda yang ingin terjun ke olahraga ini. Penggemar dan para drifters lain mulai memprediksi bahwa kedua saudara kembar ini akan menjadi pilar penting dalam beberapa tahun mendatang. Dengan keberanian dan teknik yang sudah matang, mereka bisa menjadi wajah baru drifting nasional.

Kehadiran Alby dan Athariz juga memicu perdebatan tentang kemungkinan kejurnas Passion Drift 2026 di masa depan. Apakah kelas PRO AM bisa menjadi lebih ramai dengan partisipasi dari drifters muda? Ataukah keduanya akan menjadi pengaruh besar dalam menghadirkan standar baru dalam olahraga ini. Untuk saat ini, mereka tetap menjadi sorotan utama, dengan prestasi yang menggambarkan potensi kejurnas ini untuk menjadi lebih dinamis dan inklusif.

Dengan keberhasilan ini, Alby dan Athariz menunjukkan bahwa drifting bukan lagi semata-mata olahraga yang hanya bisa dijalani oleh orang dewasa. Mereka membuktikan bahwa teknik dan keberanian bisa dikembangkan sejak usia dini. Hal ini berdampak pada pertumbuhan komunitas drifting di Indonesia, di mana kini banyak anak muda yang ingin mengejar kejurnas sebagai jalur karier mereka. Dengan konsistensi dan keberanian, mereka bisa menjadi pelopor generasi baru yang mampu menembus tingkat internasional dalam beberapa tahun ke depan.

Leave a Comment