Topics Covered: MPR dorong peta jalan PLTS 100 GW guna percepat transisi energi
MPR Dorong Penyusunan Rencana Strategis PLTS 100 GW untuk Mempercepat Perubahan Energi
Jakarta – Eddy Soeparno, Wakil Ketua MPR RI, menekankan pentingnya percepatan proses peralihan sumber energi nasional melalui pembuatan rencana strategis (roadmap) pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 100 gigawatt (GW). Dalam acara Rapat Dengar Pendapat bersama Perusahaan Listrik Negara (PLN), ia menyoroti peran sentral perusahaan milik negara dan sektor swasta dalam memastikan ketersediaan energi yang stabil sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi bangsa.
Eddy dalam pernyataannya di Jakarta, Senin, menjabarkan lima aspek utama yang perlu menjadi fokus dalam transisi energi: memperkuat keandalan sumber daya energi lokal, meningkatkan kinerja ekonomi, mengurangi emisi karbon, mengoptimalkan pengeluaran dalam perpindahan energi, serta memastikan industri dalam negeri siap menikmati manfaat dari investasi energi terbarukan. “Transisi energi akan menciptakan industri hijau dan pekerjaan ramah lingkungan bagi generasi muda Indonesia. Kehadiran industri ini tidak hanya menyerap tenaga kerja tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tuturnya.
“Transisi energi melahirkan ‘green industries’ (industri hijau) dan ‘green jobs’ (pekerjaan ramah lingkungan) bagi putra putri Indonesia. Industri yang terbangun akan membuka lapangan kerja sehingga menyerap tenaga kerja formil yang sangat dibutuhkan,” ujarnya.
Selain itu, Eddy menyoroti perlunya percepatan penutupan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) karena dianggap kurang efisien dan berkontribusi tinggi pada emisi gas rumah kaca. Ia meminta kejelasan terkait rencana penghentian operasi PLTD secara bertahap, termasuk aspek teknis dan biaya yang diperlukan dalam proses transisi.
Dalam menanggapi target pembangunan PLTS 100 GW dalam dua tahun, Eddy meminta PLN untuk menyampaikan rincian kebutuhan investasi, area lahan, serta teknologi pendukung seperti baterai. “Berapa kebutuhan lahan, berapa total investasi, termasuk biaya baterai dan lain-lain. Ini harus jelas. PLN harus memiliki rencana pengembangan yang matang dan kredibel agar target yang dicanangkan Presiden tercapai,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan agar proyek besar ini tidak menciptakan ketergantungan pada impor, melainkan memperkuat kemampuan industri nasional dalam rantai pasok energi terbarukan. “Pembangunan PLTS 100 GW adalah langkah penting dalam transisi energi Indonesia. Proyek ini akan menjadikan negara kita sebagai salah satu pemimpin di sektor energi terbarukan di Asia,” tegasnya.