IDAI beberkan kiat beri penanganan darurat pada anak tersedak

IDAI Berikan Panduan Penanganan Darurat Saat Anak Tersedak

Jakarta, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyampaikan pedoman penting untuk menangani keadaan darurat pada anak yang mengalami tersedak. Metode ini bisa diikuti oleh masyarakat secara umum. Dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subs. ETIA (K), ketua unit kerja koordinasi emergensi dan terapi intensif anak IDAI, menjelaskan bahwa penanganan pada anak berbeda dengan dewasa. “Dewasa kita gunakan C-A-B, yaitu mengatur jalan napas, pernapasan, dan jantung. Sementara anak-anak menggunakan A-B-C, dengan A adalah jalan napas, B pernapasan, dan C jantung,” ujarnya dalam temu media di Jakarta, Senin.

Usia Anak Menjadi Faktor Penentu

Menurut Yogi, pertama-tama penting untuk mengetahui usia anak yang sedang tersedak. IDAI membagi kategori usia menjadi bayi di bawah satu tahun, anak usia 1-8 tahun, dan remaja yang hampir sama dengan orang dewasa. Setelah itu, perlu memantau kondisi anak secara berkala. Karena anak yang masih mampu menangis keras dan batuk kuat menandakan jalur napasnya masih terbuka.

Metode Penanganan untuk Anak Tersedak

Untuk anak yang mengalami sumbatan pada jalan napas, seperti batuk melemah, sulit bernapas, atau bibir membiru, teknik kombinasi back blow dan chest thrust bisa diterapkan. Namun, sebelumnya pastikan situasi tenang, panggil bantuan seperti ambulans melalui nomor 112 dan 119, serta letakkan anak di permukaan datar agar tekanan maksimal terpenuhi. “Kita tidak merekomendasikan meraba nadi karena memakan waktu. Fokus pada tiga tanda kehidupan: bergerak, bernapas, dan batuk,” kata Yogi.

Apabila ketiga tanda tersebut ada, tidak perlu langsung memberi kompresi dada. Jika tidak, maka kompresi dada harus dilakukan. Untuk teknik back blow, posisikan kepala anak lebih rendah dari tubuhnya agar gravitasi membantu mengeluarkan benda asing. Lakukan hentakan 5 kali di bagian bawah telapak tangan antara tulang belikat kanan dan kiri. Jika benda masih tersangkut, lanjutkan dengan chest thrust sebanyak 5 kali.

Metode ini bisa diulangi secara bergantian. Yogi mengingatkan bahwa setelah anak sadar dan bernapas normal, memberi minum tidak dianjurkan untuk mencegah risiko tersedak kembali. “Usahakan membawa anak ke fasilitas kesehatan setelah kondisi stabil,” tuturnya.

“Dulu kita gunakan metode mouth-to-mouth, tapi sejak pandemi COVID-19, teknik itu dihindari karena takut menyebarkan infeksi,” ujar Dr. Tuti Rahayu, Sp.A, Subsp. ETIA (K), ketua IDAI JAYA. Menurutnya, mayoritas anak yang dibawa ke rumah sakit sudah dalam kondisi sulit bernapas dan bibir membiru. Penanganan darurat sangat bergantung pada kecepatan respons.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *