New Policy: Indonesia inisiasi pembentukan Asosiasi Pupuk Asia Tenggara
Indonesia inisiasi pembentukan Asosiasi Pupuk Asia Tenggara
Dalam rangka meningkatkan kerja sama di bidang pertanian, BUMN Pupuk Indonesia mengambil inisiatif membentuk Asosiasi Pupuk Asia Tenggara (SEAFA). Tujuan dari organisasi ini adalah menciptakan forum kolaborasi untuk memastikan kestabilan pasokan pupuk di kawasan regional. “Kami menginisiasi pembentukan SEAFA, yang menjadi platform kolaborasi untuk menjaga stabilitas pasokan pupuk di Asia Tenggara,” jelas Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi saat acara Konferensi Pupuk Asia 2026 di Nusa Dua, Bali, Rabu.
Kami yang mengajak lebih dulu, berdiskusi dengan Brunei dan Malaysia lalu mencapai kesepakatan bersama,” kata Rahmad.
Deklarasi pembentukan asosiasi ini dilakukan dengan penandatanganan oleh Rahmad bersama Direktur Utama Industri Pupuk Brunei (BFI) Harri Kiiski serta perwakilan dari Petronas Chemicals Group Berhad Bahrin bin Asmawi. Acara tersebut dihadiri sekitar 200 peserta dari 30 negara yang tergabung dalam forum pupuk Asia.
Sementara itu, Harri Kiiski menegaskan bahwa pembentukan SEAFA sangat penting. “Selain menjadi wadah kerja sama, asosiasi ini juga memberi ruang bagi suara industri agar bisa diakui oleh pihak berkebijakan,” tambahnya. Ia menyebutkan bahwa tantangan utama dalam produksi pupuk, termasuk isu keberlanjutan, memerlukan pendekatan bersama.
Adanya asosiasi ini diharapkan menjadi solusi bagi hambatan pasokan pupuk global yang terganggu akibat konflik di Timur Tengah. Konflik tersebut menyebabkan penghalangan akses ke Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama pengiriman sekitar 30 persen pupuk dunia.
Indonesia, sebagai salah satu produsen pupuk terbesar di dunia, memiliki kapasitas produksi sebesar 14,5 juta ton per tahun. Dalam hal itu, produksi urea mencapai 9,4 juta ton, sementara kebutuhan domestik sekitar 7 juta ton. Selain itu, perusahaan ini juga memproduksi pupuk nitrogen, fosfat, dan kalium (NPK) rata-rata 4,6 juta ton per tahun, pupuk lainnya 0,8 juta ton, amonia 7 juta ton, serta produk kimia lainnya 1,6 juta ton per tahun.
Rahmad menambahkan bahwa bahan baku untuk produksi pupuk tidak menjadi hambatan. Pasokan urea dapat dipenuhi dari dalam negeri, sedangkan fosfat dan kalium diimpor dari negara-negara yang tidak terlibat dalam konflik Timur Tengah.