Important Visit: BPS DKI sebut inflasi pada bulan Lebaran cenderung tinggi
BPS DKI Jakarta: Inflasi Lebaran Tinggi dalam Lima Tahun Terakhir
Jakarta – Berdasarkan data yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, inflasi bulanan di wilayah tersebut selama periode lima tahun terakhir menunjukkan kenaikan signifikan pada bulan yang berpapasan dengan Idul Fitri. “Permintaan yang tinggi terhadap barang dan jasa selama momen Idul Fitri sering kali memicu lonjakan inflasi,” jelas Kadarmanto, Kepala BPS DKI Jakarta, dalam wawancara di Jakarta, Rabu.
Komoditas Utama Penyumbang Inflasi Tahun 2022
Dalam Lebaran 2022 yang jatuh pada bulan Mei, sejumlah produk yang mengalami kenaikan harga menjadi penyebab utama inflasi. Beberapa komoditas yang memberikan dampak signifikan meliputi telur ayam ras, angkutan udara, bawang merah, bawang putih, serta nasi dengan lauk. Tingkat inflasi pada bulan tersebut mencapai 0,06 persen.
Inflasi Tahun 2023: Angkutan Udara dan Emas Perhiasan Berkontribusi
Tahun 2023, momen Idul Fitri jatuh di bulan April, dengan angkutan udara, daging ayam ras, emas perhiasan, telur ayam ras, dan angkutan antarkota menjadi faktor utama kenaikan harga. Inflasi bulan tersebut mencapai 0,40 persen.
Momen Lebaran 2024: Emas dan Bawang Merah Tren Mahal
Bulan April 2024, ketika Idul Fitri tiba, emas perhiasan, bawang merah, angkutan udara, serta angkutan antarkota kembali mendominasi pengaruh inflasi. Angka inflasi bulan itu sebesar 0,26 persen.
Kenaikan Tarif Listrik Jadi Penyumbang Inflasi Tahun 2025
Maret 2025 menjadi bulan dengan inflasi tertinggi, mencapai 2,00 persen, didorong oleh tarif listrik, bawang merah, emas perhiasan, daging ayam ras, dan cabai merah. “Kenaikan inflasi tarif listrik pada Maret 2025 terjadi karena berakhirnya diskon yang berlaku sebelumnya,” tambah Kadarmanto.
Inflasi Jakarta di Maret 2026: Dominasi Kelompok Makanan
Dalam bulan Maret 2026, inflasi Jakarta tercatat sebesar 0,51 persen, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyebab utama kenaikan harga. Kadarmanto menegaskan bahwa komoditas yang berkontribusi pada inflasi tersebut diharapkan bisa menjadi bahan acuan untuk pengendalian inflasi pada Lebaran di masa depan.