Key Strategy: China berharap ada negosiasi damai, meski perundingan Islamabad gagal

China berharap ada negosiasi damai, meski perundingan Islamabad gagal

Beijing – Pemerintah Tiongkok tetap optimis bahwa konflik Timur Tengah dapat diselesaikan melalui dialog. Meski perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Islamabad, Pakistan pada 10–11 April 2026 belum mencapai kesepakatan, Tiongkok masih yakin bahwa jalur negosiasi tetap penting. “Perundingan AS-Iran di Islamabad dianggap sebagai upaya deeskalasi. Kami berharap gencatan senjata bisa dipertahankan, dan perselisihan diselesaikan secara politik dan diplomatik,” tutur Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, dalam konferensi pers di Beijing, Senin (13/4).

Pernyataan dari Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China

“Negosiasi lebih baik dibanding menyulut kembali api perang, dan kondisi akan tercipta untuk pemulihan perdamaian di Teluk secepatnya,” tambah Guo Jiakun, menekankan bahwa keberhasilan perundingan justru bisa mencegah eskalasi lebih lanjut.

Komentar dari Menteri Luar Negeri Iran

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menyebut bahwa tuntutan maksimalis dan ancaman blokade oleh Angkatan Laut AS menggagalkan kesepakatan. “Dalam pembicaraan intensif selama 47 tahun, Iran berupaya dengan baik untuk berakhirnya perang. Namun, saat hampir mencapai ‘MoU Islamabad’, kami menghadapi maksimalisme, tuntutan yang beralih, dan blokade. Tidak ada pelajaran yang dipetik. Niat baik akan dibalas dengan niat baik, permusuhan melahirkan permusuhan,” jelas Araghchi dalam unggahan di platform X, Senin (13/4).

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sejak akhir Februari 2026 memicu ketegangan global, mengganggu rantai pasokan energi dan mempercepat kenaikan harga minyak. Jalur ini menjadi rute kritis bagi pengiriman minyak mentah, gas alam cair, serta bahan pupuk ke Asia dan wilayah lain. Dalam kondisi normal, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati area tersebut.

Konflik di Lebanon menjadi isu utama dalam perundingan. Meski AS dan Iran telah sepakat gencatan senjata sementara pada 8 April 2026, kondisi ini dianggap rapuh karena Israel masih melakukan serangan terhadap Hizbullah. Iran menilai isu Lebanon termasuk dalam kesepakatan, sementara AS bersikeras pendapat berlawanan.

Selat Hormuz tetap menjadi fokus perundingan. Angkatan Laut AS mengklaim dua kapal perusak telah melewati jalur tersebut sebagai persiapan operasi pembersihan ranjau, klaim yang ditolak oleh Iran. Ranjau yang dipasang Korps Garda Revolusi Islam menimbulkan risiko, sehingga perlu waktu untuk menjamin keamanan kembali, bahkan setelah blokade diakhiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *