Meeting Results: PM Malaysia dan Australia dijadwalkan bertemu bahas sejumlah isu
PM Malaysia dan Australia Direncanakan Bertemu Bahas Berbagai Isu
Kuala Lumpur – Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, akan melakukan kunjungan resmi ke Malaysia mulai Rabu (15/4) hingga Jumat (17/4). Tujuan utama pertemuan ini adalah untuk membahas isu bilateral serta situasi konflik di Timur Tengah. Pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Malaysia (Wisma Putra) menyebutkan, Albanese akan didampingi oleh Menteri Luar Negeri Penny Wong dan sejumlah pejabat pemerintahan senior.
Dalam rangkaian pertemuan, Anwar Ibrahim akan menyambut Albanese dengan Upacara Penyambutan Resmi di Kompleks Perdana Putra, Putrajaya, pada Kamis (16/4). Acara tersebut diikuti oleh pertemuan terbatas antara kedua pemimpin. Topik yang dibahas mencakup keamanan energi, hubungan perdagangan dan investasi, serta kerja sama dalam energi terbarukan dan teknologi hijau.
“Dalam konteks ini, kedua pemimpin diharapkan meningkatkan upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan dan menjaga kelangsungan jalur perdagangan global serta pasokan energi yang vital bagi kesejahteraan rakyat,” ujar Wisma Putra.
Di luar diskusi utama, pertemuan juga akan mencakup penandatanganan pertukaran nota kesepahaman (MoU) terkait Kemitraan Strategis Daging Merah Halal. Dokumen ini ditandatangani oleh Departemen Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) dan Departemen Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Australia (DAFF). Selain itu, jamuan makan siang resmi untuk Albanese akan diadakan di Kompleks Seri Perdana.
Kemitraan Strategis Meningkatkan Pertukaran Ekonomi
Malaysia menegaskan bahwa Australia tetap merupakan mitra dagang penting. Pada tahun 2025, kedua negara saling menempati posisi sebagai mitra dagang terbesar ke-12. Nilai perdagangan bilateral mencapai 78,63 miliar ringgit (Rp314 triliun), dengan ekspor sebesar 48,64 miliar ringgit (Rp194 triliun) dan impor sekitar 29,99 miliar ringgit (Rp119 triliun).
Selama 2021, hubungan bilateral Malaysia dan Australia bertransformasi menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif (CSP). Kerangka kerja ini membuka peluang kerja sama di tiga bidang utama: kemakmuran ekonomi, masyarakat dan teknologi, serta pertahanan dan keamanan regional.