Topics Covered: Menteri Bahlil-Menteri Korsel sepakati kerja sama energi bersih
Menteri Bahlil-Menteri Korsel sepakati kerja sama energi bersih
Sejumlah negara kawasan Asia Timur, termasuk Korea Selatan, dikenal sebagai mitra strategis yang penting bagi Indonesia. Dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung di Blue House, Seoul, Rabu pagi, kedua pemimpin sepakat menandatangani memorandum saling pengertian (MSP) untuk kolaborasi energi bersih. Dokumen ini diharapkan menjadi fondasi dalam mendorong transisi energi, terutama energi terbarukan sesuai kemampuan setiap negara.
“MSP ini penting sebagai fondasi bagi kedua belah pihak dalam mendorong transisi energi, khususnya energi bersih sesuai kemampuan negara masing-masing,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia setelah pengumuman, sebagaimana dilaporkan dari keterangan resmi di Jakarta, Rabu.
Dalam situasi geopolitik yang dinamis serta ancaman krisis global, Indonesia memperkuat kerja sama dengan negara-negara kawasan Asia Timur. Menteri Bahlil menekankan bahwa penguatan hubungan ini bertujuan untuk memperkokoh fondasi kedaulatan dan kemandirian energi nasional. Fluktuasi harga energi fosil akibat konflik di Timur Tengah, menurutnya, menjadi alasan kuat bagi komitmen kedua negara menjaga stabilitas pasokan energi.
Kerja sama mencakup sektor-sektor strategis, seperti pengembangan energi terbarukan—surya, angin, dan panas bumi—serta pemanfaatan teknologi masa depan seperti nuklir dan hidrogen. Juga termasuk penguatan sistem penyimpanan energi, efisiensi energi, bioenergi, dan pengolahan limbah menjadi sumber energi. Infrastruktur pendukung seperti jaringan listrik pintar, stasiun pengisian kendaraan listrik, serta industri baterai dari hulu hingga daur ulang menjadi fokus kolaborasi ini.
“Termasuk, dukungan bagi sistem energi terpadu di pulau-pulau mandiri energi supaya manfaat energi bersih bisa dirasakan lebih luas, termasuk di wilayah terpencil,” tambah Bahlil.
Bahlil optimis kerja sama ini akan memfasilitasi alih teknologi, meningkatkan nilai investasi, serta memperkuat sumber daya manusia yang kompetitif. Di sisi lain, Presiden Lee Jae-myung menegaskan bahwa Indonesia dan Korea Selatan telah menaikkan hubungan bilateral ke level tertinggi. Ia menyoroti peran Indonesia sebagai penyedia energi kunci, khususnya LNG dan batu bara.
Kerja sama antara kedua negara telah diwujudkan dalam proyek pabrik baterai kendaraan listrik yang dimiliki Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power. Pabrik ini beroperasi di Karawang, Jawa Barat, sejak Juli 2024. Tahap pertama proyek tersebut memiliki nilai investasi 1,1 miliar dolar AS, dengan kapasitas produksi baterai EV sebesar 10 gigawatt/jam (GWh), setara 32,6 juta sel baterai dan mampu menggerakkan sekitar 150.000 kendaraan listrik.
Presiden Prabowo menyoroti keunikan hubungan bilateral antara Indonesia dan Korea Selatan. “Korea Selatan memiliki kemampuan industrial dan teknologi yang luar biasa, sementara Indonesia mempunyai sumber daya yang melimpah dan pasar yang besar,” ujarnya.