Key Issue: Benarkah Soft Living Baik untuk Kesehatan Mental? Ini Kata Psikolog

Benarkah Soft Living Baik untuk Kesehatan Mental? Ini Kata Psikolog

Gaya hidup soft living, yang menekankan pendekatan lebih santai dan menghindari tekanan berlebihan, sering dikaitkan dengan pengurangan stres. Konsep ini muncul sebagai respons terhadap kebiasaan kerja intensif dan tuntutan hidup yang terus meningkat. Namun, tidak semua orang mampu menerapkannya secara penuh, terutama yang berada di awal karier.

Pendapat Psikolog

Menurut Mira Amir, seorang psikolog klinis, soft living bukan berarti hidup tanpa tanggung jawab. Ia menjelaskan bahwa konsep ini diciptakan untuk mengatasi kondisi ekstrem seperti workaholic, yang justru bisa merusak kesehatan mental. “Jangan sampai disalahartikan bahwa boleh bermalas-malasan. Ini muncul sebagai respons dari kondisi yang terlalu ekstrem, misalnya orang yang terlalu memaksakan diri dalam bekerja,” kata Mira saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (7/4).

Mira menekankan bahwa penerapan soft living tergantung pada konteks, terutama lingkungan dan fase kehidupan seseorang. Untuk pekerja kantoran dengan target yang ketat, menerapkannya secara penuh bisa menimbulkan konflik baru. “Kalau dipaksakan tanpa melihat lingkungan, bisa jadi tidak cocok. Akhirnya justru menimbulkan masalah karena nggak match sama tuntutan pekerjaan,” ujarnya.

Konsep ini lebih cocok diterapkan pada pekerjaan fleksibel atau mandiri, seperti di bidang kreatif. Di lingkungan korporat dengan sistem target, soft living perlu disesuaikan. Ia juga menyarankan pendekatan adaptif, yaitu menggabungkan prinsip santai dengan tuntutan yang ada. “Manusia yang sehat itu adaptif. Tidak menelan mentah-mentah lingkungan, tapi juga tidak memaksakan kehendak pribadi,” ujarnya.

Contoh Penerapan

Safira, seorang karyawan swasta di Jakarta, mengatakan bahwa soft living membantu dalam mengatur ekspektasi diri. “Aku jadi lebih sadar kalau nggak semua hal harus dipaksain. Dulu gampang banget stres karena ngerasa harus selalu produktif. Sekarang lebih bisa ngatur jam kerja,” katanya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (9/4).

Di sisi lain, Dana, seorang fresh graduate yang sedang mencari kerja, merasa konsep ini belum sepenuhnya relevan dengan kondisinya. “Sebagai fresh graduate, aku sendiri masih di fase butuh banget kerja. Jadi rasanya belum bisa terlalu santai atau pilih-pilih. Kalau terlalu soft living, aku takut malah jadi nggak berkembang,” ujarnya saat dihubungi, Kamis (9/4).

Kendala dan Solusi

Salah satu tantangan utama dalam menerapkan soft living adalah kemampuan menentukan batas diri, terutama saat menghadapi atasan. Banyak pekerja merasa tidak enak menolak tugas, sehingga berdampak pada kelelahan mental. Menurut Mira, hal ini dipengaruhi oleh budaya yang membentuk cara seseorang bersikap sejak kecil. “Bahwa kita besar di lingkungan keluarga, terutama menanamkan bahwa ya apa yang diberikan oleh yang tua, yang lebih senior, yang lebih punya otoritas, itu kamu jalankan,” ujarnya.

Sebagai solusi, ia menyarankan pengembangan sikap asertif dalam berkomunikasi. “Yang kami sarankan adalah seseorang mampu mengembangkan sikap asertif dan kemudian dituangkan dalam komunikasi asertif,” ujarnya. Dengan cara ini, seseorang tetap bisa menyampaikan keberatan tanpa memicu konflik.

Mira juga mengingatkan bahwa konsep batas diri tidak boleh disalahgunakan sebagai alasan menghindari tanggung jawab. “Ada juga yang semua ditolak jadi mau namanya kerjanya apa,” ujarnya. Ia menilai penting membedakan antara menjaga kesehatan mental dan tidak mau bekerja. Soft living bisa membantu menurunkan stres jika diterapkan dengan tepat dan sesuai konteks. “Jadi buat teman-teman yang ingin mengadopsi prinsip soft living ini, saya sarankan untuk bernegosiasi dengan lingkungannya,” kata Mira.

Dengan pendekatan yang seimbang, soft living bisa menjadi salah satu cara menjaga kesehatan mental tanpa mengabaikan tanggung jawab. Penerapan yang baik memerlukan pemahaman mendalam tentang kondisi diri dan lingkungan sekitar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *