Main Agenda: Ramai-ramai Kader NasDem Murka ke Tempo soal Sampul Surya Paloh

Ramai-ramai Kader NasDem Murka ke Tempo soal Sampul Surya Paloh

Sejumlah tokoh Partai NasDem memberikan respons tajam terhadap sampul Majalah Tempo yang menampilkan Ketua Umum Surya Paloh. Reaksi ini muncul usai laporan Tempo memaparkan isu kemungkinan penggabungan NasDem dengan Partai Gerindra, yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto. Tidak hanya sampul majalah, mereka juga mengkritik isi laporan serta istilah merger yang digunakan. Buntutnya, sejumlah kader menggelar unjuk rasa di depan kantor Tempo pada hari Selasa (14/4) dan meminta pihak media itu mengakui kesalahan.

Respons dari Elite NasDem

Ketua DPW NasDem DKI Jakarta, Wibi Andrino, menyebut sampul Tempo telah merendahkan peran Ketua Umumnya. Menurutnya, Surya Paloh selama ini dianggap terbuka terhadap kritik, tetapi kritik mestinya disampaikan dengan substansi, bukan hanya melalui visual yang dinilai mengurangi kredibilitas.

Kritik boleh keras. Tapi etika tetap harus jadi batas. Jangan sampai kebebasan berubah menjadi kehilangan arah,” katanya.

Ketua DPP NasDem, Willy Aditya, menolak penggunaan istilah merger dalam laporan Tempo. Menurutnya, Surya Paloh hanya menawarkan blok politik, bukan penggabungan partai. Willy menilai istilah merger memperlihatkan ketidakpahaman laporan tersebut terhadap konsep politik.

“Pemahamannya jangan merger dong. Ini orang yang nggak baca, orang yang nggak memiliki literatur politik,” ujarnya, Senin (13/4).

Kritik terhadap Penggunaan Istilah ‘Merger’

Sementara itu, Wakil Ketua Baleg DPR dari Fraksi NasDem, Martin Manurung, menganggap laporan Tempo sebagai contoh kebebasan pers yang kebablasan. Dia menilai media tersebut melanggar kode etik karena tidak melakukan verifikasi yang cukup. Lebih lanjut, Martin mendesak Dewan Pers segera bertindak.

“Dalam situasi seperti ini, Dewan Pers, sebagai wasit di lapangan jurnalistik, sangat penting untuk masuk tanpa harus menunggu adanya pelaporan,” ujar Martin.

Reaksi keras juga datang dari kader NasDem di daerah. Ketua DPW NasDem Sumut, Iskandar ST, menolak istilah merger dalam wacana penggabungan partai. Ia membantah adanya pembahasan tentang peleburan atau akuisisi NasDem dengan Gerindra.

“Tapi memang tidak ada pembicaraan bahwasanya NasDem itu akan dilebur, akan diakuisisi, atau dibeli oleh pihak-pihak lain,” katanya.

Iskandar menegaskan, partai itu didirikan sebagai wadah perjuangan, bukan alat bisnis. “NasDem didirikan bukan untuk dijual, tapi memperjuangkan rakyat Indonesia melalui seluruh kader yang ada di Partai NasDem,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *