Key Discussion: Ketum PGI Respons Pernyataan JK soal Konflik Poso-Ambon

Ketum PGI Respons Pernyataan JK soal Konflik Poso-Ambon

Pdt. Jacky Manuputty, ketua umum Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), memberikan tanggapan terhadap pernyataan Jusuf Kalla yang mengaitkan konflik Poso dan Ambon dengan agama sebagai alasan kekerasan. Menurutnya, penjelasan JK tidak sepenuhnya salah, karena agama seringkali digunakan sebagai dalih dalam situasi konflik. Pernyataan tersebut disampaikan JK dalam ceramah umum di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 5 Maret 2026.

“Pernyataan ini, jika dibaca dalam konteks sejarah konflik Poso dan Maluku, tidak sepenuhnya keliru. Kita tidak dapat menutup mata bahwa pada masa itu agama memang tampil dengan wajah yang terdistorsi,”

Pernyataan JK terkait konflik tersebut dilaporkan ke pihak kepolisian oleh DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) dan beberapa organisasi lain. Laporan itu didasarkan pada dugaan penistaan ajaran Kristen. Jacky, yang juga anggota delegasi Kristen dalam perjanjian Malino II, mengakui pengalamannya langsung terhadap dinamika konflik di wilayah tersebut.

Dalam pengalaman pribadinya, Jacky menyebut bahwa religiusitas dan simbol-simbol spiritual sering dijadikan dasar sebelum para peserta konflik melakukan aksi. Contohnya, doa dan upacara pemberkatan tokoh agama dianggap penting untuk memberikan legitimasi pada kekerasan. “Kata ‘shalom’ yang artinya damai bahkan sering diucapkan sebagai motivasi sebelum masuk ke area bentrokan,”

“Kata Shalom yang bermakna damai bahkan kerap dipekikkan sebagai penyemangat di komunitas Kristen sebelum menuju ke area bentrokan,”

Jacky juga menekankan bahwa konflik di Poso dan Ambon akarannya berasal dari ketidakadilan sosial dan politik, tetapi sering disalahartikan sebagai ‘konflik agama’. Hal ini membuat makna suci agama bisa berubah menjadi alat pembenaran kekerasan. Menurutnya, pernyataan JK membuka ruang untuk refleksi tentang peran agama dalam konflik, bukan untuk menyalahkan agama, tetapi memahami bagaimana ajaran bisa diselewengkan.

Selain itu, Jacky menyebut bahwa istilah ‘syahid’ dalam Islam dan Kristen sering disamakan sebagai dasar legitimasi saling membunuh. Ia menjelaskan bahwa dalam tradisi Kristen, tidak ada konsep yang menyatakan bahwa membunuh orang lain bisa menghasilkan status kesyahidan. Istilah yang digunakan adalah ‘martir’, yang berarti kesediaan untuk mengorbankan diri demi iman, bukan mati saat melakukan serangan.

“Memang benar bahwa dalam konteks konflik Maluku, istilah ‘martir’ mengalami pergeseran makna. Seorang Kristen yang meninggal dalam tindakan agresi kerap disebut sebagai martir,”

Juru Bicara JK, Husain Abdullah, mengklaim bahwa tuduhan penistaan ajaran Kristen terhadap pernyataan JK merupakan hasil pemotongan konteks. Ia menjelaskan bahwa video viral yang menampilkan JK menggunakan istilah ‘mati syahid’ untuk kedua pihak konflik kehilangan makna utuhnya. “Setelah ditelusuri, tuduhan itu merupakan hasil pemotongan konteks (context cutting). Kami membantah dengan tegas tuduhan itu,”

“Pandangan keliru kedua pihak inilah yang terlebih dahulu diluruskan Pak JK bahwa tidak ada satu pun agama yang membolehkan untuk saling membunuh,”

Husain menambahkan, pernyataan JK justru memperkuat bahwa tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk berperang. Ia menyebut bahwa JK menyampaikan hal ini kepada para pemimpin konflik saat itu sebagai upaya klarifikasi. Meski begitu, Jacky tetap berpendapat bahwa penyederhanaan konsep ‘syahid’ antara Islam dan Kristen tidak tepat secara teologis, karena kekerasan berasal dari penyimpangan ajaran, bukan dari agama itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *