Solving Problems: Menteri Purbaya akan tambah Rp100 triliun untuk subsidi energi
Menteri Purbaya Umumkan Peningkatan Subsidi Energi
Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan rencana untuk menambah dana subsidi energi hingga Rp100 triliun. Pernyataan ini diberikan dalam wawancara di Wisma Danantara, Jakarta, pada Rabu. Menurut Purbaya, penambahan anggaran sebesar Rp90–100 triliun bertujuan memperkuat dukungan kebijakan subsidi, bukan sebagai bentuk kompensasi.
Subsidi untuk Komoditas Energi Spesifik
Skema subsidi diterapkan pada beberapa bahan bakar seperti LPG 3 kg dan solar, kata Purbaya. Sementara, dana kompensasi dialokasikan untuk menutupi perbedaan antara harga eceran yang ditetapkan pemerintah dengan harga pasar. Contohnya, Pertalite menggunakan mekanisme kompensasi sebagai Jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan (JBKP).
“Rp90 triliun–Rp100 triliun itu subsidi. Kompensasi adalah hal lain. Saya lupa angkanya,” tutur Purbaya.
Di luar tambahan ini, anggaran subsidi energi yang telah diusulkan sebelumnya mencapai Rp210,1 triliun. Total alokasi subsidi dalam APBN 2026 sebesar Rp318,9 triliun. Dengan gabungan dana kompensasi, anggaran untuk stabilitas energi mencapai Rp381,3 triliun.
Defisit APBN Terkendali
Purbaya menjamin defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terjaga hingga akhir tahun. Ia menyebutkan, meski dengan asumsi harga minyak dunia rata-rata 100 dolar per barel, defisit diharapkan tidak melebihi 3 persen, sekitar 2,9 persen.
Dalam konferensi pers yang ditayangkan secara daring, Selasa (31/3), Purbaya menjelaskan bahwa pengelolaan anggaran dilakukan secara terus-menerus. Hal ini memungkinkan APBN tetap fleksibel menghadapi fluktuasi ekonomi global.
Skenario Dampak Kenaikan Harga Minyak
Pemerintah telah menyusun beberapa skenario terkait dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap APBN. Skenario pertama memproyeksikan harga minyak mentah Indonesia (ICP) sekitar 86 dolar AS per barel, dengan kurs rupiah Rp17.000 per dolar. Dengan pertumbuhan ekonomi 5,3 persen dan imbal hasil surat berharga negara 6,8 persen, defisit APBN diperkirakan mencapai 3,18 persen.
Di skenario moderat, harga minyak diprediksi mencapai 97 dolar AS per barel, kurs rupiah melemah ke Rp17.300 per dolar. Pertumbuhan ekonomi dianggap 5,2 persen, sementara imbal hasil SBN mencapai 7,2 persen. Defisit APBN dalam skenario ini bisa naik hingga 3,53 persen.
Terakhir, pada skenario pesimistis, harga minyak diperkirakan melonjak ke 115 dolar AS per barel, kurs rupiah turun hingga Rp17.500 per dolar. Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 5,2 persen dan imbal hasil SBN 7,2 persen, defisit APBN berpotensi melebar menjadi 4,06 persen.