Topics Covered: Sektor agribisnis Indonesia siap perkuat pertumbuhan ekonomi di ASEAN

Sektor Agribisnis Indonesia Siap Perkuat Pertumbuhan Ekonomi di ASEAN

Di Jakarta, Rabu, ASEAN Food & Beverage Alliance (AFBA) dan Oxford Economics merilis laporan dengan judul Economic Insights: Unlocking Indonesia’s Agri-Food Powerhouse. Laporan ini didukung oleh Food Industry Asia (FIA) dan menekankan pentingnya sektor agribisnis sebagai pilar kunci dalam mendorong peningkatan lapangan kerja, investasi, serta perdagangan di Indonesia.

Pembangunan Berkelanjutan dan Kebijakan Nasional

Leonardo menyatakan bahwa saat ini pihaknya sedang menerapkan transformasi struktural yang berorientasi pada peningkatan efisiensi sektor pertanian dan integrasinya dengan pengembangan industri agro. Ia menambahkan bahwa strategi ini didorong oleh praktik berkelanjutan dan kemajuan masyarakat, serta bertujuan menciptakan resiliensi nasional yang lebih holistik, tidak hanya terbatas pada pertahanan tradisional.

“Saat ini, kami sedang mengimplementasikan transformasi struktural yang berfokus pada peningkatan produktivitas pertanian dan menghubungkannya dengan pengembangan agroindustri kami,” kata Leonardo.

Peran Agribisnis dalam Rangka RPJMN

Transformasi tersebut sejalan dengan agenda RPJMN 2025-2029 yang menekankan penguatan nilai tambah sektor agroindustri, peningkatan ketahanan pangan, serta pengurangan kemiskinan dan kesenjangan wilayah. Leonardo menjelaskan bahwa upaya ini didukung oleh reformasi kebijakan, investasi yang lebih besar, pembangunan infrastruktur logistik, serta kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta.

Kolaborasi Regional untuk Stabilitas Ekonomi

Deputi Sekretaris Jenderal ASEAN untuk Komunitas Ekonomi Satvinder Singh menekankan pentingnya kerja sama antar negara ASEAN dalam memperkuat sistem pangan dan rantai pasok. “Pertanian bukan sekadar sebuah sektor, tetapi juga tulang punggung ekonomi, ketahanan pangan, serta stabilitas sosial kita. ASEAN merepresentasikan pasar konsumen yang dinamis dengan 700 juta penduduk, dan kita harus menjaga serta menumbuhkan pasar ini secara efektif bersama-sama melalui kerangka kerja,” ujarnya.

“Pertanian bukan sekadar sebuah sektor, tetapi sekaligus tulang punggung sejati bagi ekonomi, ketahanan pangan, dan stabilitas sosial kita. ASEAN merepresentasikan pasar konsumen yang dinamis dengan 700 juta orang dan kita harus menjaga serta menumbuhkan pasar ini secara efektif bersama-sama melalui kerangka kerja,” ujarnya.

Pandangan Ahli tentang Peran Agribisnis

Direktur Konsultasi Ekonomi Oxford Economics James Lambert menyoroti ukuran besar dan kontribusi signifikan sektor agribisnis terhadap perekonomian nasional. Ia menilai sektor ini merupakan fondasi yang kuat, mendorong pertumbuhan ekonomi secara luas, terutama di tengah kondisi perdagangan global yang semakin terfragmentasi.

“Di tengah lingkungan perdagangan global yang semakin terfragmentasi, membangun resiliensi melalui penguatan fondasi domestik dan kepastian regulasi sangat krusial, karena ketidakpastian kebijakan dapat menjadi beban nyata bagi investasi dan produktivitas jangka panjang,” ungkapnya.

Komitmen ASEAN untuk Resiliensi Pangan

Pham Quang Minh dari Sekretariat ASEAN menegaskan komitmen kawasan dalam meningkatkan ketahanan dan keberlanjutan sektor pangan. Ia menjelaskan bahwa ASEAN berfokus pada resiliensi melalui Strategic Plan of Action for Food, Agriculture and Forestry (SPA-FAF), yang bertujuan menciptakan sektor agribisnis inklusif dan tangguh.

“Kami bertujuan untuk menciptakan sektor agribisnis yang inklusif dan tangguh yang memastikan rantai pasok yang stabil, terutama melalui inisiatif seperti kerangka kerja ASEAN Integrated Food Security (AIFS) dan rencana aksi lima tahunan kami,” tuturnya.

Peluncuran laporan ini mempertemukan para pembuat kebijakan, pemimpin industri, dan pemangku kepentingan regional untuk mendiskusikan bagaimana sektor agribisnis dapat menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi dan daya saing Indonesia di kawasan ASEAN. Dengan adanya kerangka kerja seperti ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA) yang ditingkatkan dan Digital Economy Framework Agreement (DEFA), kepastian hukum serta konektivitas bagi bisnis global di ASEAN diharapkan dapat terjaga secara optimal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *