Key Strategy: Minyak Rusia Jadi Rebutan, Putin Ogah Pasok ke Negara-Negara Ini
Minyak Rusia Jadi Rebutan, Putin Ogah Pasok ke Negara-Negara Ini
Konflik di Timur Tengah yang memanas telah meningkatkan permintaan minyak mentah secara global, memicu keputusan tegas dari Pemerintah Rusia. Negara tersebut secara resmi mengumumkan kebijakan untuk tidak mengirimkan minyak ke negara-negara yang mendukung skema pembatasan harga, dianggap sebagai tindakan “antipasar”.
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Andrey Rudenko, menyatakan pasar energi sedang mengalami ketidakstabilan karena penurunan pasokan dan kenaikan harga yang berkelanjutan. Ia menekankan posisi Moskow terhadap negara-negara yang mendukung Ukraina, termasuk anggota G7 dan Australia, yang telah menerapkan pembatasan impor minyak dan gas Rusia sejak konflik di Ukraina memuncak tahun 2022.
“Pasar energi terus berfluktuasi akibat pengetatan pasokan dan kenaikan harga. Rusia tidak akan menjual minyak kepada negara-negara yang dianggap provokatif,” ujar Rudenko kepada Izvestia pada Selasa (31/03/2026).
Pembatasan harga, yang saat ini ditetapkan sekitar US$44 per barel, berhasil memangkas pembelian minyak dari negara-negara Barat. Namun, dalam beberapa minggu terakhir, tren ini berubah. Minyak mentah Urals Rusia kini dijual ke India dan pembeli lain dengan harga premium, mencapai US$121,5 per barel pada 19 Maret 2026. Harga tersebut melampaui US$120 per barel dari Dated Brent, berbeda dengan awal Maret yang masih mengalami diskon US$12 per barel.
Krisis energi semakin memburuk setelah serangan terkoordinasi AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan ini memicu respons balik di seluruh wilayah, menyebabkan penutupan de facto Selat Hormuz—jalur penting yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak global. Iran memblokir pengangkutan kapal dari negara-negara yang dianggap tidak bersahabat, mendorong kenaikan harga minyak hampir 50% hingga mencapai US$120 per barel awal bulan ini.
Sementara itu, Amerika Serikat mengambil langkah strategis dengan mencabut sementara sanksi terhadap minyak Rusia yang dimuat ke kapal sebelum 12 Maret. Lisensi penjualan berlaku hingga 11 April mendatang, memberi keuntungan signifikan bagi Moskow dalam pendapatan anggaran. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengungkapkan bahwa kebijakan ini akan meningkatkan pemasukan Rusia sekitar US$2 miliar.
Pasca penghapusan sanksi, beberapa negara Asia langsung bergerak untuk memperoleh pasokan minyak dari Rusia. Thailand, Filipina, Vietnam, dan Indonesia menunjukkan minat membeli minyak mentah, sementara India dan Tiongkok tetap mengambil kargo dalam kerangka pengecualian. Rudenko menambahkan bahwa negara-negara seperti Jepang masih terikat oleh aturan pembatasan harga, yang ia anggap mengganggu rantai pasok global.