Main Agenda: WFH 1x Seminggu Bakal Picu PHK? Menaker & Pengusaha Bilang Begini

WFH 1x Seminggu Bakal Picu PHK? Menaker & Pengusaha Bilang Begini

Jakarta – Isu tentang risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali menjadi perbincangan publik akibat ketidakpastian kondisi ekonomi global. Kebutuhan penyesuaian gaya kerja, seperti work from home (WFH) satu kali seminggu, disebut menjadi faktor yang bisa memengaruhi stabilitas tenaga kerja. Menghadapi hal ini, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan bahwa diskusi soal masalah ketenagakerjaan selalu melibatkan berbagai pihak secara bersamaan.

Forum Tripartit Jadi Wadah Utama

Menurut Yassierli, forum tripartit menjadi tempat utama untuk mengatasi dinamika yang terjadi. Pemerintah, pengusaha, dan pekerja terlibat aktif dalam penyusunan kebijakan. “Kami hadir bersama perwakilan dari LKS Tripartit Nasional. Mungkin selama ini banyak teman-teman belum menyadari bahwa kebijakan ketenagakerjaan ini dirancang melalui diskusi bersama di forum tersebut,” ujarnya di Kemnaker, Rabu (1/4/2026).

“Minimal kita bertemu sebulan ya? Ada plenonya, ada di situ juga Pokja Badan Pekerja di Tripartit Nasional,” kata Yassierli.

Ia menekankan bahwa masukan dari berbagai pihak, termasuk kekhawatiran soal dampak kondisi global, masuk dalam diskusi rutin. Proses ini telah berjalan baik dan menjadi dasar untuk menghasilkan kebijakan ketenagakerjaan hingga kini. Yassierli berharap peran forum ini semakin kuat dalam menjaga keseimbangan antarkepentingan.

Pengusaha Apresiasi Kebijakan yang Jelas

Anggota LKS Tripartit Nasional dari pihak pengusaha, Mira Sonia, mengatakan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah memberikan arah jelas bagi dunia usaha. Kepastian ini dianggap penting untuk menjaga operasional perusahaan. “SE ini menjadi respons cepat yang memberikan kepastian hukum bagi pengusaha dan pekerja dalam melakukan transformasi budaya kerja nasional,” ujarnya.

“Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 ini sebenarnya akan menjadi pedoman bagi seluruh pelaku bisnis untuk mendorong perubahan budaya kerja secara nasional,” katanya.

Mira juga menekankan pentingnya komunikasi antara perusahaan dan pekerja agar tidak terjadi kesalahpahaman. “Diskusi bersama akan menjadi faktor kunci agar implementasi kebijakan berjalan efektif dan selaras dengan tujuan,” tambahnya.

Optimisme Terhadap Pemulihan Ekonomi

Dalam tekanan global, pengusaha berharap kondisi ekonomi segera membaik. Harapan ini dianggap esensial untuk menjaga kelangsungan industri dan kesejahteraan pekerja. “Kami berharap pertumbuhan ekonomi kembali menguat, sehingga membuka peluang lebih luas bagi tenaga kerja,” ujarnya.

“Akhirnya pekerja dapat mendapatkan penghidupan yang layak,” kata Mira.

Ia menyoroti bahwa kebijakan ini menekankan kolaborasi, termasuk melibatkan serikat pekerja dalam proses penerapannya. Dengan pendekatan ini, perusahaan diharapkan bisa mengupayakan produktivitas dan stabilitas usaha secara lebih optimal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *