Special Plan: Krisis Energi Kian Nyata, Negara Asia Balik Lagi ke Batu Bara
Krisis Energi Kian Nyata, Negara Asia Balik Lagi ke Batu Bara
Penggunaan Batu Bara Meningkat di Tengah Gangguan Pasokan Gas
Di tengah ketegangan geopolitik, sejumlah negara Asia kembali menggantungkan diri pada batu bara untuk menjaga stabilitas pasokan listrik. Kebutuhan energi yang meningkat memaksa pemerintah mengambil langkah darurat, menyebabkan kenaikan signifikan dalam penggunaan bahan bakar fosil ini. Krisis yang terjadi mengarah pada peringatan dari para ahli iklim bahwa transisi menuju energi bersih bisa terhambat.
Korea Selatan, misalnya, menghentikan rencana penutupan pembangkit listrik tenaga batu bara dan melepaskan batasan produksi. Sementara Thailand memperbesar kapasitas produksi di fasilitas batu bara utamanya. Di Filipina, pemerintah menyatakan kondisi darurat energi nasional dan merencanakan peningkatan operasi pembangkit uap. India, yang mengandalkan batu bara untuk hampir 75% kebutuhan listriknya, juga mendorong pengoperasian pabrik batu bara secara maksimal.
Di Asia Selatan, Bangladesh meningkatkan produksi listrik berbasis batu bara serta impor bahan bakar tersebut pada Maret. Lonjakan penggunaan batu bara terjadi karena kekurangan pasokan gas alam cair (LNG) yang sebelumnya dianggap sebagai alat transisi ke energi bersih. Kehilangan pasokan LNG setelah penutupan Selat Hormuz dan serangan terhadap infrastruktur ekspor Qatar memperparah situasi, dengan dampak yang diperkirakan bertahan bertahun-tahun.
“Pasar global berubah dalam empat minggu dari surplus pasokan yang cukup sehat menjadi defisit yang sangat parah, dan itu tidak hanya akan menyebabkan lonjakan harga, tetapi juga kekurangan bahan bakar nyata,” katanya, dilansir The Guardian, Rabu (1/4/2026).
Henning Gloystein dari Eurasia Group menunjukkan bahwa hampir 30 miliar meter kubik LNG hilang dari rantai pasok global, sebagian besar di kawasan Indo-Pasifik. Ia menjelaskan bahwa kargo LNG terakhir sebelum konflik akan tiba dalam sepekan. Menurutnya, negara dengan cadangan batu bara akan memanfaatkan sumber daya ini karena biaya dan kecepatan penggunaannya lebih rendah dibandingkan alternatif lain.
“Negara-negara yang memiliki cadangan batu bara akan menggunakannya karena itu adalah cara tercepat dan termurah untuk menggantikan LNG,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa India juga meningkatkan penggunaan energi terbarukan.
Pauline Heinrichs dari King’s College London mengatakan krisis ini seharusnya menjadi momentum penting. Menurutnya, kebutuhan energi saat ini memperkuat pentingnya pengembangan energi terbarukan. “Energi terbarukan bukan hanya prioritas iklim, tetapi pada akhirnya untuk keamanan energi yang lebih luas di Asia. Ekonomi dengan porsi besar energi terbarukan justru lebih tahan terhadap fluktuasi pasokan,” tambahnya.
“Kita perlu belajar bahwa ini adalah momen untuk memutus siklus merespons guncangan jangka pendek bahan bakar fosil dengan investasi pada bahan bakar fosil, karena itu tidak pernah jangka pendek, itu selalu investasi infrastruktur jangka panjang,” imbuh Heinrichs.
Dinita Setyawati dari Ember menegaskan bahwa bergantung pada batu bara bukan solusi jangka panjang. “Energi terbarukan domestik jelas merupakan jalan untuk meningkatkan keamanan dan ketahanan energi,” katanya, dikutip The Guardian. Selain memperbesar penggunaan batu bara, negara-negara Asia juga berusaha menghemat konsumsi energi untuk mengurangi tekanan pada sistem listrik.