Segini Nilai Impor Migas RI dari Timteng Sebelum AS-Israel Gempur Iran
Segini Nilai Impor Migas RI dari Timteng Sebelum AS-Israel Gempur Iran
Defisit Neraca Perdagangan Migas Mengalami Penurunan
Sejak 28 Februari 2026, konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran menyebabkan gangguan pada pasar komoditas minyak dan gas. Salah satu dampak langsung adalah penutupan Selat Hormuz, jalur utama perdagangan migas global, oleh Iran. Pada periode tersebut, Indonesia masih mengimpor migas, meski angka defisit neraca perdagangan mengalami perbaikan.
Neraca perdagangan migas Indonesia mencatat defisit sebesar US$920 juta per Februari 2026, lebih baik dibandingkan Januari yang mencapai US$2,27 miliar. Nilai impor migas juga berkurang signifikan, turun 30,36% dibandingkan bulan Februari 2025. Angka impor sebesar US$2 miliar, sementara ekspor hanya mengalami penurunan 4,25% ke level US$1,08 miliar.
“Ekspor migas ke Qatar mencapai US$43,3 juta, sedangkan ke kawasan Timur Tengah sekitar US$517,7 juta. Di sisi impor, Qatar menyumbang US$37,2 juta, namun impor dari Timur Tengah mencapai US$447,9 juta,” tutur Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono dalam konferensi pers, Rabu (1/4/2026).
Sebaliknya, neraca perdagangan Indonesia secara keseluruhan mencatat surplus US$1,28 miliar per Februari 2026, naik dari surplus US$950 juta di bulan Januari. Perbaikan ini didorong oleh surplus neraca perdagangan non migas yang mencapai US$2,19 miliar, meski angka tersebut lebih rendah dibandingkan Januari 2026 yang mencapai US$3,22 miliar.
Kawasan Timur Tengah, yang menjadi sumber utama impor migas Indonesia, masih menunjukkan defisit sebesar US$447,38 miliar per Februari 2026. Hal ini disebabkan oleh perbedaan antara nilai ekspor migas (US$517,7 juta) dan impor migas (US$447,9 juta) yang terjadi selama periode tersebut.