Tak Terduga – Begini Ramalan Terbaru BPS Soal Produksi Jagung 2026
Proyeksi Produksi Jagung 2026 Turun, BPS: Maret-Mei Berkontribusi pada Penurunan
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan estimasi produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14% (JPK KA 14%) hingga Mei 2026 mencapai 6,96 juta ton. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 0,05 juta ton atau 0,68% dibandingkan Januari-Mei tahun 2025 sebelumnya.
Penurunan terjadi secara signifikan di bulan Maret hingga Mei, yang dipengaruhi oleh penyusutan luas panen serta kondisi lahan yang digunakan untuk tanam jagung sebelumnya. Produksi pada Februari 2026 tercatat 1,77 juta ton, lebih rendah dari 1,86 juta ton di bulan yang sama tahun 2025.
Kondisi Luas Panen dan Penyebabnya
Dari sisi luas panen, BPS mencatat penurunan jumlah lahan yang digunakan untuk tanam jagung di awal tahun. Pada Februari 2026, luas panen mencapai 0,31 juta hektare, menurun dari 0,33 juta hektare di Februari 2025.
“Luas panen jagung pipilan pada Februari tahun 2026 mencapai 0,31 juta hektare. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan Februari tahun 2025,” ujar Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS.
Untuk periode Maret-Mei, BPS memperkirakan luas panen jagung mencapai 0,68 juta hektare, turun 2,59% dibandingkan tahun sebelumnya. Secara kumulatif, luas panen Januari-Mei 2026 diperkirakan 1,22 juta hektare, menurun 1,39% dibandingkan Januari-Mei 2025.
Kebijakan dan Faktor yang Mempengaruhi
Ateng menegaskan bahwa angka potensi luas panen masih bersifat dinamis dan dapat berubah sesuai kondisi lapangan. “Angka potensi tentunya masih berubah, bergantung kepada kondisi terkini hasil amatan, seperti serangan hama, banjir, kekeringan, hingga perubahan waktu panen oleh petani,” jelasnya.
BPS juga menyatakan bahwa potensi luas panen mencakup seluruh tanaman jagung yang akan dipanen, termasuk yang tidak dimaksudkan untuk pipilan. “Potensi luas panen ini sudah termasuk tanaman jagung yang akan dipanen bukan untuk pipilan, misalnya dipanen muda atau untuk hijauan pakan ternak,” tambah Ateng.
Produksi jagung pada Maret-Mei 2026 diperkirakan turun menjadi 3,80 juta ton, yang menyebabkan penurunan total produksi kumulatif Januari-Mei. BPS memastikan akan terus memantau kondisi lapangan, karena angka potensi dapat berubah menjadi angka tetap dalam rilis berikutnya.