New Policy: Film Salmokji Viral, Banyak Penggemar Nekat Uji Nyali di Lokasi Asli
Film Salmokji Viral, Banyak Penggemar Nekat Uji Nyali di Lokasi Asli
Film horor Korea terbaru, Salmokji: Whispering Water, menjadi perbincangan hangat belakangan ini. Popularitasnya mendorong ribuan penggemar mengunjungi Waduk Salmokji, tempat produksi film tersebut, di malam hari untuk merasakan atmosfer misteriusnya.
Asal Usul Legenda Waduk
Salmokji awalnya dibangun pada 1982 sebagai sumber air untuk pertanian di wilayah Yesan, Provinsi Chungcheong Selatan. Namun, waduk ini juga dikenal sebagai tempat angker oleh komunitas okultisme lokal. Karena keaslian ceritanya, banyak orang nekat mengunjungi lokasi tersebut pada dini hari.
“Ponsel dan internet saya tidak berfungsi selama beberapa saat. Mungkin karena lokasinya dikelilingi pegunungan dan berada di jalur terpencil,” tulis seorang blogger tentang pengalaman di waduk tersebut.
Melalui laporan Korea JoongAng Daily, diungkapkan bahwa setelah film Salmokji meledak di Korea, orang-orang berbondong-bondong mendatangi waduk tersebut, terutama di malam hari. Tempat ini sempat menjadi fenomena viral di media sosial.
Inspirasi Sutradara
Sutradara Lee Sang-min bercerita bahwa ide membuat film tentang hantu air muncul langsung dari legenda Salmokji. “Saat merencanakan kisah horor berlatar air, saya menemukan cerita ini dan memutuskan menulis naskahnya secara serius,” ujarnya.
Lee menggambarkan waduk sebagai ruang transisi antara dunia nyata dan gaib. “Pohon-pohon yang tumbuh dari air tampak menyeramkan, dan kabut yang menggelayut seolah menarik manusia ke dalam,” katanya. “Saya memvisualisasikan Salmokji sebagai ambang antara hidup dan kematian, lalu mencari lokasi serupa untuk syuting.”
Plot dan Pengalaman Selama Syuting
Narasi film ini menggambarkan tokoh-tokoh yang secara sadar mendekati bahaya, dipicu oleh motivasi pribadi seperti balas dendam atau rasa bersalah. Selama proses produksi, tim juga mengalami beberapa momen menegangkan.
“Di sana, sinyal telepon sangat lemah hingga tidak bisa menelepon, tapi kami mendengar nada panggil di dekat pengeras suara,” kata Lee. “Beberapa anggota kru mengaku melihat siluet anak-anak di menara batu,” lanjutnya.
Waduk ini sebenarnya juga dikenal sebagai tempat memancing oleh penduduk sekitar, meski aktivitas tersebut dilarang. Fenomena ini menunjukkan bagaimana legenda lokal dapat memengaruhi dunia perfilman dan memicu kecurigaan masyarakat terhadap tempat-tempat yang dianggap bersejarah misterius.