Historic Moment: Megawati Soroti Agresi AS ke Venezuela-Iran, Desak Gelar KAA Jilid II
Megawati Soroti Agresi AS ke Venezuela-Iran, Desak Gelar KAA Jilid II
PDI Perjuangan memandang Konferensi Asia Afrika (KAA) jilid II perlu diadakan sebagai respons terhadap agresi militer AS di Iran dan Venezuela. Megawati Soekarnoputri, Presiden kelima Indonesia, menilai dunia saat ini menghadapi ketidakstabilan akibat konflik geopolitik yang semakin rumit. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan kembali kepentingan nilai-nilai KAA, terutama Dasa Sila Bandung, dalam menjaga kedaulatan bangsa dari intervensi asing.
Tantangan Global
Dalam seminar ‘Relevansi Gerakan Asia Afrika dalam Krisis Geopolitik Saat Ini’ di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Sabtu (18/4), Megawati menyatakan bahwa penggulingan presiden Venezuela, Maduro, serta serangan AS-Israel terhadap Iran menciptakan gangguan terhadap sistem internasional. “Situasi ini mengingatkan kita bahwa dunia saat ini sedang terjebak dalam ketegangan global,” ujarnya.
“Dasa Sila Bandung adalah hukum internasional yang diinisiasi Indonesia sebagai benteng bekerjanya kedaulatan dan kemerdekaan suatu bangsa dari campur tangan bangsa lain,”
Politik luar negeri yang diusung oleh KAA, menurut Megawati, tetap relevan sebagai landasan untuk menciptakan keadilan dan kesetaraan antar bangsa. Ia menekankan bahwa gerakan ini menjadi jawaban terbaik untuk mengurangi pengaruh neokolonialisme dan imperialisme dalam dunia modern.
Eksistensi KAA Jilid II
Sebagai upaya menjaga keseimbangan global, Megawati berpendapat bahwa KAA Jilid II perlu menjadi pusat perdebatan untuk memperkuat persahabatan antar negara berkembang. “Dengan situasi yang makin kompleks, KAA jilid II menjadi kompas masa depan bangsa dan dunia,” tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Megawati mengkritik kehadiran pangkalan militer asing di berbagai negara. Ia mengingat langkah Indonesia tahun 1965 melalui Konferensi Internasional Anti Pangkalan Militer Asing (KIAPMA) di Hotel Indonesia sebagai contoh awal upaya mengurangi ketergantungan pada kekuatan luar. “Pangkalan militer asing menjadi penyebab cepatnya intervensi kedaulatan negara-negara merdeka di Amerika Latin dan Timur Tengah,” tambahnya.
Warisan Bung Karno
Megawati juga mengulas pemikiran geopolitik Bung Karno, yang membagi kekuatan dunia menjadi dua kategori: The New Emerging Forces (negara-negara baru merdeka) dan The Old Forces (negara-negara mapan). Meski perbedaan kapasitas, ia menegaskan bahwa keduanya harus dipandu oleh tujuan yang sama, yakni memperjuangkan kemanusiaan, keadilan, serta perdamaian dunia.