Key Discussion: Aliansi penerjemah China-ASEAN berdiri guna perkuat kerja sama kawasan

Aliansi Penerjemah China-ASEAN Berdiri Guna Perkuat Kerja Sama Kawasan

Peluncuran di XMUM, Xiamen, pada 18 April 2026

Kuala Lumpur, Minggu – Aliansi Penerjemah China-ASEAN, yang juga dikenal sebagai Association of Translation, Interpreting, and Communication China-ASEAN, resmi dibentuk di Xiamen University Malaysia (XMUM) pada Sabtu, 18 April 2026. Acara ini menjadi bagian dari pembukaan Konferensi Penerjemah, Penjurubahasaan, dan Komunikasi China-ASEAN yang diadakan oleh XMUM selama dua hari, 18–19 April 2026.

Konferensi tersebut dihadiri oleh lebih dari 30 akademisi dari 20 institusi pendidikan di delapan negara, termasuk delegasi dari Indonesia. Mereka membahas berbagai isu penting, seperti dialog budaya lintas negara, inovasi pendidikan dalam era kecerdasan buatan (AI), serta praktik dan pasar penerjemahan.

“Rencana aksi kemitraan strategis China-ASEAN 2026–2030 telah memberikan panduan untuk memperdalam kerja sama kawasan. Xiamen University akan terus memanfaatkan kekuatan akademiknya untuk mendukung pertukaran budaya dan inovasi kolaboratif antara kedua belah pihak,” kata Wakil Rektor XMUM Wu Chaopeng dalam pernyataan resmi yang diterima di Kuala Lumpur.

Tujuan dan Aktivitas Masa Depan Aliansi

Ketua Aliansi, Chen Jing, yang juga Dekan Fakultas Bahasa Asing XMUM, menjelaskan bahwa organisasi ini bertujuan menciptakan tenaga profesional yang memiliki wawasan global, kemampuan berbahasa ganda, serta keahlian spesialis di bidang kawasan. Di masa depan, aliansi akan berperan dalam fasilitasi penelitian bersama, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta publikasi akademik.

Menurut Chen Jing, keberadaan aliansi ini diharapkan mendorong pengembangan kerja sama lintas budaya dan memperkuat komunikasi antar negara-negara anggota ASEAN dengan Tiongkok.

“Penguatan komunikasi bahasa dan pertukaran masyarakat akan menjadi fondasi penting dalam memperkaya kerja sama sosial dan budaya antara China-ASEAN,” ujar Dato’ Dr. Mohd Anwar Ridhwan, wakil dari Lembaga Bahasa dan Pustaka Malaysia, serta Hanoi Lam Quang Dong, akademisi dari Universitas Nasional Vietnam.

Kontribusi dan Rekomendasi dari Indonesia

Sajarwa Sukiyo, dosen dari Universitas Gadjah Mada (UGM), yang turut serta dalam acara tersebut, menilai konferensi ini sangat bermanfaat bagi dunia penerjemah. Ia menyarankan pengembangan kerja sama internasional yang konkret, seperti pertukaran dosen dan mahasiswa, serta kelas online melalui Zoom.

“Kita perlu menyusun standar kualifikasi penerjemah tingkat China-ASEAN, dengan melibatkan Indonesia sebagai salah satu penyusun kerangka kerja,” tambah Sajarwa Sukiyo. Ia juga menekankan bahwa Indonesia, sebagai negara dengan ekonomi terbesar di ASEAN dan mitra strategis dalam inisiatif Belt and Road, sebaiknya memanfaatkan aliansi ini untuk berpartisipasi aktif dalam aspek diplomasi, ekonomi, pendidikan, dan akademik.

“Banyak masyarakat Indonesia masih mengaitkan China hanya dengan perdagangan dan teknologi. Dengan dialog lintas budaya, pemahaman terhadap hubungan bilateral dapat diperluas,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *