Special Plan: Danantara Merger 15 BUMN Logistik, Begini Kinerja Keuangannya
Danantara Merger 15 BUMN Logistik, Begini Kinerja Keuangannya
Dari Jakarta, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) sedang mengelola rencana penggabungan beberapa perusahaan BUMN logistik untuk membentuk sebuah holding. Sebagai negara maritim dengan ribuan pulau, memiliki sistem logistik yang kuat adalah kebutuhan mendesak. Kini, Danantara membidik integrasi 15 perusahaan BUMN dalam sektor ini guna memperkuat operasional dan menekan biaya logistik nasional.
Kinerja Finansial Perusahaan Profitabel
Kelompok pertama terdiri dari enam perusahaan yang secara berkelanjutan mencatatkan laba. Entitas ini bergerak di bidang pelabuhan, pelayaran, layanan pos, kereta api, serta sistem digital. Di sektor pelabuhan, PT Pelindo Terminal Petikemas mengungguli rekan sebidang dengan laba tertinggi. Data terbaru menunjukkan perusahaan ini meraih Rp1,79 triliun di Q3 2025, setelah mencatatkan Rp2,59 triliun pada 2024 dan Rp2,21 triliun di 2023.
PT ASDP Indonesia Ferry, yang beroperasi di bidang pelayaran penyeberangan, mengalami penurunan laba dari Rp605,03 miliar (2023) menjadi Rp436,07 miliar (2024). Di sektor distribusi, PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) berada di posisi Rp198,92 miliar di akhir 2024, setelah mengalami penyesuaian dari Rp137,42 miliar (2023) dan Rp262,14 miliar (2022).
PT Pos Indonesia mencatatkan laba Rp1,2 triliun pada 2023, kemudian turun menjadi Rp838,94 miliar di 2024. Dalam semester I 2025, kinerja perusahaan melanjutkan tren penurunan dengan laba sebesar Rp144,32 miliar. PT KAI Logistik juga menunjukkan stabilitas, dengan laba komprehensif antara Rp92 miliar hingga Rp100 miliar selama tiga tahun terakhir (2022-2024). Pada semester I 2025, pendapatan perusahaan naik 7% ke Rp538,6 miliar, didukung oleh volume angkutan barang sebesar 11,2 juta ton.
Kinerja Finansial Perusahaan Rugi
Terdapat dua perusahaan dalam kategori ini, fokus pada logistik komoditas industri. PT Pupuk Indonesia Logistik mengalami penurunan profitabilitas tiga tahun terakhir. Dari laba Rp18,78 miliar (2022), perusahaan ini melaporkan kerugian Rp12,05 miliar (2023) dan Rp90,52 miliar (2024), mayoritas dipengaruhi oleh kenaikan beban operasional serta administrasi.
Sementara itu, PT Semen Indonesia Logistik mencatatkan laba bersih Rp11,07 miliar (2023), lalu mengalami kerugian Rp30,29 miliar di 2024. Konsolidasi kedua perusahaan ini diharapkan meningkatkan efisiensi penggunaan armada distribusi, terutama saat volume produksi induk perusahaan sedang menurun.
Kinerja Finansial Belum Terinci
Kelompok ketiga mencakup tujuh perusahaan yang detail keuangannya belum dipublikasikan secara mandiri. Perusahaan-perusahaan ini menyediakan layanan logistik berbasis kawasan, udara, serta rantai pasok. Meski belum ada data spesifik, rencana konsolidasi diharapkan memberikan gambaran lebih jelas mengenai potensi integrasi mereka ke dalam holding.