Key Discussion: Review Film: Ghost in the Cell
Review Film: Ghost in the Cell
Joko Anwar kembali memperkenalkan karya yang mengejutkan melalui film terbaru, Ghost in the Cell. Kali ini, ia mengambil langkah berani dengan menyelami dunia penjara yang gelap dan penuh tekanan. Film fiksi ini lebih dari sekadar kisah horor biasa, tetapi juga menjadi wujud kritik tajam terhadap sistem pengelolaan dan kelengkapan institusi di Indonesia.
Dalam cerita, entitas jahat berupa hantu dianggap sebagai ancaman bagi individu yang menyimpan energi negatif atau emosi yang membara.
“Hantu pun bisa marah melihat kejahatan manusia.”
Pesan ini menggambarkan pengingat bahwa keburukan manusia bisa memicu konsekuensi yang mengancam diri sendiri. Joko Anwar menampilkan intensitas kekerasan fisik dan psikologis yang mengusik penonton.
Film ini juga menyisipkan elemen mengejutkan berupa sindiran terhadap fobia trypophobia. Lubang-lubang yang muncul dalam visualitas dianggap sebagai simbol pembusukan moral dan parasit kejahatan di dalam tubuh manusia. Lapas Labuan Angsana menjadi representasi mini dari bangsa, di mana tahanan tidak selalu buruk, sementara sipir sering kali mengambil peran lebih keji.
Kerangka cerita menyoroti hierarki kekuasaan yang kental dalam sistem penjara. Sipir korup bersekutu dengan pemimpin tahanan untuk menjaga citra keadilan, meski praktiknya justru memperparah kekejaman. Banyak penonton merasa tantangan cerita mengenai hantu yang mendeteksi aura terasa kurang logis, tetapi elemen lainnya memberikan kesan kuat.
Para Pemain dan Penampilan Menarik
Dalam Ghost in the Cell, Joko Anwar menghadirkan aktor ternama seperti Abimana Aryasatya, Rio Dewanto, Lukman Sardi, Bront Palarae, Tora Sudiro, Morgan Oey, Endy Arfian, dan Kiki Narendra. Salah satu penampilan yang paling memukau adalah oleh Aming. Berbeda dari karakter humoristis sebelumnya, kali ini ia membawa peran psikopat yang dingin, unik, dan menggigit.
Sementara atmosfer film terasa gelap, Joko Anwar juga menyisipkan komedi sebagai bentuk pembalikan. Dialog yang mengandung sindiran seperti “Preman masuknya nggak di penjara, masuknya ormas,” atau “Tapi kan lu tinggal di Indonesia, bukan Norwegia” memberikan jeda emosional bagi penonton. Pendekatan ini cerdas, karena mencegah kelelahan akibat visual penyiksaan yang intens, sekaligus menyampaikan kritik sosial secara menyentuh.
Meski ada kelemahan di beberapa bagian, seperti dialog yang terkadang monoton dan bahasa yang kurang dalam, film ini tetap menyampaikan pesan utamanya dengan jelas. Setan paling mengerikan bukanlah makhluk halus, melainkan sistem yang rusak dan kehilangan kendali diri manusia. Ghost in the Cell terasa sangat relevan dengan realitas masa kini, membuat penonton tertawa sambil merasakan kekesalan atas keadaan negeri yang lucu namun tragis.