Terjadi Lagi Pasukan Perdamaian PBB Gugur di Lebanon

Terjadi Lagi Pasukan Perdamaian PBB Gugur di Lebanon

Seorang prajurit Prancis dari pasukan perdamaian PBB UNIFIL menjadi korban serangan kembali terjadi di Lebanon. Tentara tersebut adalah bagian dari tim sementara yang bertugas di daerah tersebut.

Menurut laporan dari AFP, CNN, dan Reuters, pada hari Minggu (19/4/2026), insiden tersebut menyebabkan satu korban tewas dan tiga prajurit lainnya terluka. Prajurit yang gugur diidentifikasi sebagai Florian Montorio, anggota Resimen Parasut Insinyur ke-17. Dalam pernyataannya, pasukan menyebut dua dari tiga korban cedera mengalami luka parah.

Pernyataan Macron dan Salam

UNIFIL mengungkapkan bahwa patroli mereka sedang melakukan pembersihan bahan ledus di jalur desa Ghanduriyah, Lebanon selatan, saat diserang oleh senjata ringan dari pihak non-negara. Korban tewas akibat tembakan langsung.

“Sudah jelas bahwa perilaku tidak bertanggung jawab ini menimbulkan kerusakan serius pada Lebanon dan hubungannya dengan negara-negara sahabat dan pendukungnya di seluruh dunia,” ujar Salam.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam serangan tersebut. Dalam pernyataan bersama, Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam juga mengutuk insiden itu dan meminta investigasi segera.

Pernyataan PBB dan Investigasi Awal

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyampaikan kecaman terhadap serangan di Lebanon. Ia mendorong semua pihak untuk menghormati penghentian permusuhan dan gencatan senjata.

Menurut hasil investigasi awal, serangan tersebut disinyalir berasal dari kelompok Hizbullah. UNIFIL menyatakan bahwa tindakan itu dianggap sebagai serangan yang disengaja.

Macron menegaskan bahwa bukti sementara menunjukkan kelompok bersenjata yang didukung Iran terlibat dalam insiden tersebut. Ia meminta otoritas Lebanon bertindak terhadap pelaku.

Reaksi Indonesia dan Hizbullah

Kementerian Luar Negeri Indonesia menyampaikan belasungkawa atas gugurnya prajurit Prancis dan cedera beberapa anggota lainnya. Kemlu menegaskan bahwa serangan selama masa gencatan senjata tidak dapat diterima.

“Serangan yang terjadi di tengah kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari merupakan hal yang tidak dapat diterima. Seluruh pihak harus menahan diri, menghormati kedaulatan negara dan menjunjung tinggi hukum internasional, termasuk hukum humaniter internasional,” ujar Kemlu.

Hizbullah membantah keterlibatannya dalam serangan tersebut. Kelompok itu mengajak semua pihak untuk bersikap hati-hati dalam menetapkan tanggung jawab.

“Hezbollah membantah keterlibatannya dalam insiden yang terjadi dengan pasukan UNIFIL di daerah Ghandouriyeh-Bint Jbeil,” demikian pernyataan Hizbullah, dilansir AFP, Minggu (19/4).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *