Key Discussion: ULM-ISAT University Filipina kolaborasi lestarikan ekosistem mangrove
ULM-ISAT University Filipina kolaborasi lestarikan ekosistem mangrove
Banjarmasin – Universitas Lambung Mangkurat (ULM) bekerja sama dengan Iloilo Science and Technology (ISAT) University Filipina dalam upaya melestarikan ekosistem mangrove. Kegiatan ini melibatkan penanaman bibit mangrove rambai di kawasan konservasi bekantan serta lahan basah di Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.
Kolaborasi ini menunjukkan komitmen bersama dalam menghadapi tantangan lingkungan global, terutama terkait pelestarian ekosistem mangrove yang kritis bagi kelangsungan wilayah pesisir,” kata Raisa Fadila, ketua Tim Merdeka Belajar Kampus Merdeka Terpadu (MBKT) FKIP ULM, Senin.
Kunjungan mahasiswa dari Filipina berlangsung sebagai bagian dari program International Community Service (PKM Internasional) yang dilakukan bersama mahasiswa FKIP ULM. Tema kegiatan “Penanaman Mangrove untuk Keberlanjutan Lingkungan” menjadi bukti nyata pengabdian masyarakat internasional yang berfokus pada perbaikan ekosistem di daerah pesisir Pulau Curiak.
Menurut Noor Eka Chandra, kepala UPA Bahasa ULM, kegiatan ini tidak hanya bertujuan menjaga lingkungan, tetapi juga memperkaya pemahaman budaya antar mahasiswa. “Selain restorasi ekosistem, kegiatan ini menjadi wadah untuk belajar bahasa dan konteks lokal, khususnya mengenai sistem lahan basah,” ujarnya.
Dr. Amalia Rezeki, ketua Pusat Konservasi Bekantan ULM dan pendiri Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI), menjelaskan kepada peserta bahwa kegiatan melibatkan penjelasan tentang habitat bekantan, teknik menanam mangrove, serta pentingnya perawatan setelah penanaman. Ia menyoroti bahwa Pulau Curiak memiliki keanekaragaman hayati yang luas, namun menghadapi ancaman serius akibat abrasi dan kegiatan manusia.
Para peserta secara bersama-sama menanam bibit mangrove di area pesisir yang terkena dampak abrasi dan perusakan lingkungan. Setelah proses penanaman, mereka melakukan observasi terhadap habitat bekantan, yang memperdalam wawasan mereka mengenai pentingnya konservasi berbasis ekosistem.