Key Strategy: Breaking News! IHSG Turun 1%, Tekanan Jual Kian Dalam
Breaking News! IHSG Turun 1%, Tekanan Jual Kian Dalam
Pada perdagangan Kamis (2/4/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus mengalami tekanan jual yang dalam. Hingga pukul 09.23 WIB, IHSG mencatatkan penurunan 1% ke level 7.112,46. Pergerakan ini mencerminkan kekhawatiran pasar yang semakin meningkat, terutama di tengah atmosfer negatif global. Pernyataan terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait konflik dengan Iran menjadi faktor pendorong utama kecemasan tersebut.
Bursa Asia juga mengalami penurunan serempak, menguatkan sentimen risk-off yang mengelilingi pasar keuangan internasional. Meski sempat menghijau di awal sesi, indeks negara-negara Asia langsung bergerak turun setelah pidato Trump. Kospi Korea Selatan jatuh 2,85%, Nikkei Jepang turun 1,4%, dan Hang Seng Hong Kong mengalami penurunan 0,86%. Sebelumnya, IHSG bergerak dalam rentang 7.106,47 hingga 7.161,80. Nilai transaksi mencapai Rp2,72 triliun, dengan volume 5,03 miliar saham dan frekuensi 348 ribu kali transaksi.
Pernyataan Trump: Konflik dengan Iran Masih Berlanjut
Dalam pidatonya di Gedung Putih, Rabu (1/4/2026) malam waktu setempat, Trump menyatakan operasi “Epic Fury” terhadap Iran akan terus berjalan hingga semua tujuan strategis tercapai. Ia menegaskan bahwa serangan final akan segera diluncurkan dalam dua hingga tiga minggu mendatang.
“Kita akan membawa mereka kembali ke zaman batu,” ujarnya.
Trump menekankan bahwa perubahan rezim bukan tujuan utama operasi tersebut, meskipun beberapa pemimpin Iran telah tewas selama konflik. Ia juga memperingatkan bahwa AS bersiap menyerang infrastruktur kritis Iran, seperti pembangkit listrik, jika tidak ada kesepakatan dalam waktu dekat. Namun, fasilitas minyak Iran belum menjadi sasaran utama.
“Mereka tidak punya pertahanan udara. Radar mereka hancur. Kita tak terhentikan,” tegasnya.
Dalam pernyataan tambahan, Trump mengklaim kemampuan pertahanan udara Iran telah lumpuh setelah serangan terhadap fasilitas nuklir mereka. Ia menyebut kerusakan yang terjadi begitu besar hingga membutuhkan waktu bulanan untuk pemulihan. “Kami memegang semua ‘kartu’,” imbuhnya.
Harga Minyak Kembali Mendidih
Seiring situasi geopolitik yang memanas, harga minyak kembali melambung. Data Refinitiv menunjukkan bahwa harga Brent mencapai US$105,61 per barel, naik lebih dari 4% sejak pembukaan pasar. West Texas Intermediate (WTI) juga melonjak ke US$97,44 per barel, naik 3,95% dari US$103,94.
Pelemahan IHSG terjadi di hampir seluruh sektor, dengan 370 saham melemah, 221 menguat, dan 367 saham stagnan. Kondisi ini menunjukkan dominasi tekanan jual yang signifikan dalam pasar saham domestik.