Solving Problems: Rayakan Hari Kartini, Perempuan Berhak Punya Waktu Buat Diri Sendiri
Rayakan Hari Kartini, Perempuan Berhak Punya Waktu Buat Diri Sendiri
Di tengah perayaan Hari Kartini, pesan utama yang diangkat adalah tentang hak perempuan untuk memiliki kesetaraan dalam berbagai aspek kehidupan. Namun, kesetaraan ini sering dilihat melalui peran sosial, seperti pekerja, ibu, anak, atau pengelola rumah tangga. Padahal, hak yang sejati juga mencakup kebebasan untuk merawat diri secara mental dan fisik, serta menikmati waktu yang khusus untuk kegiatan pribadi.
Perempuan, terutama, kerap mengalami keterbatasan waktu karena tanggung jawab domestik yang melekat. Menurut data dari OECD dan UN Women, secara global, perempuan menghabiskan sekitar 2,8 jam lebih banyak per hari dibanding laki-laki untuk tugas-tugas yang tidak dibayar. Akibatnya, banyak dari mereka kehilangan ruang untuk beristirahat atau menjalani hobi yang bisa menunjang kesejahteraan.
Hobi bukan sekadar aktivitas yang mengisi waktu luang, melainkan bagian penting dari kehidupan yang membantu mencegah stres. Penelitian di The Lancet Psychiatry menunjukkan bahwa kegiatan seperti membaca, olahraga, atau berkebun memiliki dampak langsung pada peningkatan kesehatan mental. Sementara studi lintas negara di Nature Medicine menemukan bahwa memiliki hobi terkait dengan penurunan risiko depresi serta kualitas hidup yang lebih baik.
Menurut WHO, aktivitas fisik rutin seperti berolahraga bisa memperkuat kemampuan seseorang untuk bertahan dalam situasi sulit. Kegiatan kreatif, seperti melukis atau membuat kerajinan, juga berperan dalam meningkatkan kepuasan hidup. Di konteks emansipasi modern, hak untuk punya waktu sendiri dan mengeksplorasi kegemaran menjadi bentuk kebebasan yang lebih luas.
Hari Kartini menjadi pengingat bahwa emansipasi tidak selalu terlihat dalam skala besar. Sejumlah kecil waktu untuk diri sendiri, seperti menikmati hobi, bisa menjadi penopang penting bagi kesejahteraan emosional dan fisik. Dengan memprioritaskan ruang pribadi, perempuan bisa memperkuat identitas mereka di luar peran yang sering dibebankan.