New Policy: Program PP Tunas Pemkot Serang fokus perbaiki komunikasi orangtua-anak
Program PP Tunas Pemkot Serang fokus perbaiki komunikasi orangtua-anak
Keluarga sebagai pusat dukungan untuk Generasi Z dan Alpha
Kota Serang, Banten, melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3A2KB) tengah menggencarkan program Perlindungan Khusus Anak (PP Tunas). Tujuan utamanya adalah meningkatkan hubungan komunikasi antara orang tua dan anak, yang menurut Hena Arlini, kepala bidang Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) DP3A2KB, menjadi faktor kunci dalam membentuk perilaku anak.
“Kegagalan komunikasi dalam keluarga sering menjadi penyebab utama masalah perilaku pada anak-anak Generasi Z dan Alpha,” katanya.
Dalam konteks ini, Hena menyoroti peran orang tua yang sering kali diabaikan. Banyak anak lebih memilih berinteraksi melalui platform digital karena merasa tidak didengar dan sering dikritik di lingkungan rumah. “Melalui PP Tunas, kami berupaya memulihkan fungsi keluarga sebagai tempat nyaman bagi anak,” ujarnya.
Program Sekolah Keluarga untuk anak yang memiliki masalah disiplin
Sebagai bagian dari upaya ini, DP3A2KB menghadirkan inisiatif Sekolah Keluarga. Program tersebut ditujukan kepada orang tua dan anak yang tercatat memiliki riwayat ketidakdisiplinan di sekolah. Fokusnya adalah memberikan pelatihan emosional untuk memperkuat ikatan antara kedua pihak.
Hena juga menekankan bahwa orang tua memiliki tanggung jawab utama sebagai pendidik di rumah. “Ayah adalah pemberi aturan di rumah. Tanpa kehadiran mereka, anak mungkin kehilangan pedoman dalam berperilaku,” tambahnya. Ia menyoroti bahwa kesibukan pekerjaan sering menyebabkan peran ayah menjadi tidak terwujud secara optimal.
Menurut Hena, fondasi kasih sayang yang kuat pada usia 0-7 tahun sangat penting. “Anak yang merasa dicintai sejak dini akan lebih mudah menerima aturan dan konsekuensi saat memasuki tahap pendidikan formal,” ujarnya. Selain itu, orang tua diminta aktif mengawasi penggunaan gawai untuk mencegah dampak negatif FOMO (Fear of Missing Out) yang bisa memicu sifat agresif pada anak.