Solving Problems: Pola asuh dan stigma buat perempuan sulit terbuka soal masalah

Pola Asuh dan Stigma Buat Perempuan Sulit Terbuka Soal Masalah

Psikiater dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ menyoroti bahwa perempuan yang dibesarkan dalam lingkungan dengan pola asuh kritikal sering kali kesulitan untuk terbuka saat menghadapi masalah. Ia menjelaskan, pengalaman sejak masa kanak-kanak yang penuh kritik atau kesalahan bisa memengaruhi cara mereka menghadapi tantangan di masa dewasa.

“Kalau sejak kecil terbiasa dikritik atau disalahkan, ketika dewasa mereka lebih mudah menarik diri dan memilih diam saat ada masalah,” kata Elvine setelah menghadiri acara diskusi memperingati Hari Kartini di Jakarta, Selasa.

Kondisi ini terkait dengan perasaan ketidakamanan dan hubungan keterikatan yang terbentuk sejak usia dini. Menurut Elvine, ketika perempuan merasa ekspresi emosinya tidak diakui atau dinilai berlebihan, mereka cenderung menginternalisasi stigma tersebut. Hal ini menciptakan self stigma, di mana individu menyalahkan diri sendiri atas pengalaman yang dialaminya.

“Perempuan bisa merasa kenapa saya begini, kenapa saya terlalu emosional. Padahal proses biologis seperti menstruasi adalah hal normal,” ujarnya.

Kebiasaan tersebut juga dipengaruhi oleh budaya patriarki yang masih dominan. Elvine menambahkan, dalam kasus kekerasan seksual, korban sering memilih diam karena takut dihakimi atau justru disalahkan. “Patriarki memengaruhi keberanian perempuan untuk bersuara,” tambahnya.

Menurut psikiater tersebut, pendidikan tentang isu seperti menstruasi, kesehatan mental, dan batasan diri sebaiknya dimulai di rumah. Orang tua perlu mengajak anak, baik laki-laki maupun perempuan, berdiskusi secara jujur tanpa prasangka. “Ketika anak merasa didengar dan tidak dihakimi, mereka akan lebih berani menyampaikan apa yang dirasakan,” katanya.

Elvine menekankan bahwa menciptakan lingkungan yang aman serta mendukung menjadi langkah krusial untuk mencegah perempuan terus memendam masalah. Jika tidak diatasi, hal ini berpotensi memengaruhi kesehatan mental secara jangka panjang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *