Key Strategy: FUJI Dicecar Bursa, Laba Merosot-Piutang Pembiayaan Tiba-tiba Lenyap
FUJI Dicecar Bursa, Laba Merosot-Piutang Pembiayaan Tiba-tiba Lenyap
Perubahan Signifikan dalam Laporan Keuangan Tahun 2025
PT Fuji Finance Indonesia Tbk (FUJI) memberikan penjelasan setelah ditanyai pasar modal terkait laporan keuangan tahunan 2025 yang menunjukkan perubahan drastis dibandingkan tahun sebelumnya. Perseroan mengungkapkan penurunan laba sebesar 24,32%, dari Rp11,03 miliar pada 2024 ke Rp8,35 miliar di 2025. Pihak manajemen menyebutkan penyebab utama adalah penurunan pendapatan dari selisih kurs serta kenaikan beban operasional dan administrasi.
Penyebab Penurunan Laba dan Evaluasi Piutang
Perseroan menjaga prinsip konservatif untuk menjaga stabilitas profitabilitas. Dalam keterangan resmi kepada BEI, Selasa (21/4/2026), manajemen menjelaskan bahwa penurunan laba diakibatkan oleh pengurangan pendapatan selisih kurs, sekaligus peningkatan beban umum dan administrasi. Selain itu, ada peningkatan signifikan pada beban operasional, termasuk perjalanan dan transportasi yang melonjak 692,06%, serta beban kantor yang naik 282,14%.
“Perseroan tetap menerapkan prinsip konservatif, di mana semua piutang yang diberikan selalu dilengkapi jaminan berupa pengikatan hak tanggungan atas tanah atau bangunan dengan nilai aset yang memadai untuk menutupi seluruh jumlah kredit yang disalurkan. Perseroan juga melakukan evaluasi rutin terhadap kondisi keuangan debitur guna memastikan kelancaran pembayaran,”
Peningkatan beban lain-lain mencapai 121,09%, yang dipengaruhi oleh kenaikan biaya pencatatan di BEI dan beban pajak penghasilan. Di sisi lain, piutang pembiayaan tiba-tiba berjumlah nol per 31 Desember 2025, sedangkan pos lain-lain mengalami kenaikan luar biasa hingga 3.618,26%.
Reklasifikasi Piutang dan Penjelasan Manajemen
Perseroan menjelaskan perubahan tersebut disebabkan oleh reklasifikasi piutang pembiayaan menjadi kategori piutang lain-lain sebesar Rp80 miliar. Langkah ini diambil setelah evaluasi berdasarkan ketentuan POJK No. 46/2024. “Sebagian piutang berasal dari penyaluran kepada debitur yang mengambil alih kredit dari bank (takeover kredit), sehingga tidak bisa diklasifikasikan sebagai pembiayaan multiguna, investasi, atau multiguna,”
Kinerja NPF Turun ke 0%
BEI juga mengkritik rasio non-performing financing (NPF) FUJI yang mencapai 48% pada 2024, karena kesulitan arus kas debitur pasca-pandemi. Namun, di 2025, fasilitas pembiayaan terhadap debitur tersebut dialihkan ke pihak ketiga, sehingga rasio NPF kembali turun menjadi 0%. Manajemen menyebutkan langkah ini membantu memulihkan kinerja finansial perusahaan.