Meeting Results: Sekolah di Bengkayang sambut positif pembatasan medsos untuk anak

Sekolah di Bengkayang sambut positif pembatasan medsos untuk anak

Bengkayang – Sekolah-sekolah di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat memberikan respons positif terhadap kebijakan pemerintah yang membatasi penggunaan media sosial untuk anak di bawah usia 16 tahun. Kebijakan ini dinilai mampu melindungi perkembangan mental siswa serta meningkatkan konsentrasi saat belajar. Kepala SMP Swasta Amkur Bengkayang, Suster Lusia, mengungkapkan dukungan penuh pihaknya terhadap aturan tersebut, karena selaras dengan kebijakan yang sudah diterapkan di lingkungan sekolah. “Kami mewajibkan siswa tidak membawa ponsel ke dalam ruang kelas agar fokus belajar terjaga dan gangguan berkurang,” jelas Lusia di Bengkayang, Kamis. Menurutnya, larangan membawa gawai ini sudah diberlakukan lama sebagai upaya mencegah dampak negatif dari penggunaan media sosial.

“Pembatasan awal untuk media sosial penting karena anak-anak belum bisa menyaring informasi digital secara efektif,” tambahnya.

Di sisi lain, guru di SMP Amkur, Fransiskus Xaverius Bria, menganggap kebijakan ini sebagai langkah strategis dalam menjaga kualitas belajar siswa. “Penggunaan media sosial tanpa pengawasan bisa mengurangi konsentrasi mereka. Pembatasan ini diharapkan membantu siswa lebih produktif selama proses belajar mengajar,” ujarnya. Kebijakan ini juga didukung oleh kesepakatan bersama orang tua murid dalam rapat sekolah.

“Sekolah menekankan pentingnya kolaborasi antara orang tua dan pendidik untuk memastikan aturan ini berjalan efektif,” katanya.

Sementara itu, salah satu siswa, Josua, menyatakan tidak mengeluhkan aturan ini. “Dengan pembatasan medsos, kami bisa lebih fokus pada tugas utama sebagai pelajar. Media sosial memang bermanfaat, tapi seringkali mengganggu konsentrasi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kebijakan ini juga membantu meningkatkan interaksi sosial antar teman-teman.

“Saya merasa aturan ini memberi manfaat lebih besar daripada kelemahan yang mungkin terjadi,” kata Josua.

Sekolah-sekolah di Bengkayang berharap kebijakan ini bisa menekan risiko perundungan siber dan paparan konten negatif yang bisa memengaruhi anak-anak. Selain itu, mereka berupaya memastikan konsistensi antara aturan di dalam dan luar lingkungan sekolah agar dampak positif lebih optimal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *