Key Strategy: IHSG Tutup di Zona Merah, Tertekan Saham DSSA dan BREN
IHSG Tutup di Zona Merah, Tertekan Saham DSSA dan BREN
Jakarta, pada perdagangan Selasa (21/4/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penurunan terbatas di akhir hari. Indeks tersebut ditutup di level 7.559,38, turun 0,46% atau sebanyak 34,73 poin. Selama hari ini, IHSG tetap berada dalam kisaran merah, dengan level terendah mencapai 7.511,83 dan tertinggi 7.568,99.
Total saham yang naik mencapai 405, sedangkan saham yang turun sebanyak 283, dan 271 saham tidak bergerak. Transaksi total mencapai Rp 17,8 triliun, melibatkan 41,14 miliar saham dalam 2,68 juta transaksi. Kapitalisasi pasar mengalami penurunan menjadi Rp 13.443 triliun.
Meski mayoritas sektor mengalami kenaikan, koreksi tajam pada tiga saham utama menghambat IHSG dari zona hijau. Dian Swastatika Sentosa (DSSA) dan Barito Renewables Energy (BREN) menjadi penekan utama, terutama karena kemungkinan dikeluarkan dari indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).
“Kami akan terus berkomunikasi dengan index provider. Kami juga akan terus berkomunikasi dengan investor global untuk memperoleh masukan untuk penguatan pasar modal ke depan,” ujar Jeffrey Hendrik, PJS Direktur Utama BEI.
Dalam pernyataannya, MSCI menyebut akan mengeluarkan emiten yang masuk daftar High Shareholding Concentration (HSC) dari indeksnya. “Akan segera diumumkan,” tambah Jeffrey terkait saham-saham HSC di indeks MSCI.
Pengumuman MSCI dan Perubahan Kebijakan
MSCI telah mengumumkan pembaruan terkait evaluasi free float saham-saham Indonesia per 20 April 2026. Perubahan ini menjadi tindak lanjut dari kebijakan pembekuan rebalancing indeks yang sebelumnya disampaikan pada Januari 2026.
Dalam tinjauan Mei 2026, MSCI memutuskan untuk sementara menahan peningkatan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), tidak menambahkan saham baru ke indeks MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta tidak melakukan kenaikan kelas saham antar segmen kapitalisasi. Selain itu, MSCI bisa menggunakan data keterbukaan pemegang saham 1% untuk menyesuaikan estimasi free float jika diperlukan.
Proses evaluasi masih berlangsung, dan data baru belum dimasukkan dalam perhitungan hingga masukan dari pelaku pasar dipertimbangkan. MSCI membuka ruang bagi keterlibatan investor global dalam mengevaluasi efektivitas kebijakan tersebut, dengan rencana pembaruan lanjutan dijadwalkan pada Juni 2026.
Konteks HSC dan Pembaruan Kebijakan
MSCI menegaskan bahwa saham yang masuk kategori HSC berpotensi dikeluarkan dari indeks, sesuai kebijakan global. Dalam konteks ini, BREN dan DSSA menjadi bagian dari daftar 9 saham HSC yang dirilis Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodia Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Dalam perjalannya, BBRI juga masuk dalam daftar top laggards, menyeret IHSG sebesar 26,66 poin. Emiten bank besar ini terkena koreksi 4,94% karena memasuki periode ex dividend hari ini.
BEI telah bertemu dengan MSCI pada 16 April 2026, dan mengapresiasi penerimaan empat proposal yang diajukan bersama SRO. Jeffrey Hendrik menegaskan bahwa komunikasi dengan investor global akan terus dilakukan guna memperkuat pasar modal ke depan.