New Policy: EcoNusa fasilitasi masyarakat adat Suga-Kawaf petakan wilayah mandiri

EcoNusa fasilitasi masyarakat adat Suga-Kawaf petakan wilayah mandiri

Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, menjadi lokasi pelatihan pemetaan wilayah adat oleh masyarakat Suku Irarutu di Kampung Suga dan Kawaf, yang berlangsung pada 26–27 Maret 2026. Kegiatan ini didukung oleh Yayasan EcoNusa, dengan tujuan membantu warga adat memetakan wilayah mereka secara mandiri menggunakan teknologi GPS dan aplikasi Avenza.

Salah satu peserta, Mama Otto Pina Masumbauw (58), yang sehari-hari berprofesi sebagai penokok sagu, menjadi satu-satunya perempuan yang mengikuti pelatihan tersebut. Ia menyambut baik proses ini, seperti yang ia sampaikan dalam keterangan yang diterima di Teluk Bintuni, Selasa:

“Sa rasa ini penting, makanya sa tra pergi tokok sagu hari ini.”

Pelatihan itu dibagi menjadi beberapa kelompok, dengan pemuda bertugas mengambil titik koordinat di lapangan, sementara para tetua adat mengumpulkan data sosial budaya, termasuk sejarah wilayah, struktur kepemimpinan, serta situs penting. EcoNusa menekankan bahwa metode pemetaan partisipatif memberdayakan masyarakat sebagai penentu batas wilayah dan ruang hidup mereka.

Wilayah Suga-Kawaf berada di kawasan strategis yang kaya ekosistem mangrove, namun menghadapi ancaman dari penebangan dan tekanan lingkungan sekitar. Charles Sroyer, Kepala Kantor EcoNusa Wilayah Manokwari, menjelaskan bahwa pendampingan ini bertujuan mengakui wilayah adat secara resmi. “Kami datang untuk membantu bapak dan mama agar wilayah adatnya bisa diakui oleh negara. Tapi proses ini membutuhkan dukungan dan keterlibatan aktif dari masyarakat,” katanya.

Sekretaris II Panitia Masyarakat Hukum Adat (PMHA) Teluk Bintuni, Lewi Widodo Budi Utomo, optimis pemetaan dapat segera diselesaikan. “Pemahaman masyarakat sudah semakin kuat. Kami berharap jika proses berjalan baik, pengakuan bisa segera terbit,” ujarnya.

Bagi masyarakat Suga dan Kawaf, pemetaan wilayah adat dianggap sebagai langkah kunci untuk menjaga hutan, sumber pangan, serta warisan leluhur agar tetap lestari bagi generasi mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *