Special Plan: Yuan Mau Naik Kelas? China Wajib Bongkar Sistem Keuangannya

Yuan Mau Naik Kelas? China Wajib Bongkar Sistem Keuangannya

Penutupan Selat Hormuz dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah memberikan dampak signifikan pada pasar energi, sekaligus memperkuat kembali posisi yuan China di panggung global. Mata uang ini mulai mendapat perhatian lebih serius, meski belum mampu langsung menggantikan dominasi dolar AS. Konflik terkini antara AS, Israel, dan Iran, khususnya peristiwa penutupan Selat Hormuz, memicu spekulasi bahwa negara-negara penghasil minyak berpotensi menggeser penggunaan dolar sebagai alat transaksi utama.

Histori Dominasi Dolar AS dalam Perdagangan Minyak

Sistem keuangan global yang mengutamakan dolar AS telah berlangsung sejak 1970-an, ketika Amerika Serikat dan Arab Saudi sepakat mengadopsi dolar sebagai mata uang utama dalam pertukaran minyak. Kesepakatan ini juga memberi imbalan berupa aliran surplus ke aset keuangan AS. Namun, kini tatanan tersebut mulai teruji karena kekhawatiran tentang stabilitas geopolitik di kawasan itu.

Ketegangan di Timur Tengah, terutama setelah serangan AS dan Israel serta langkah Iran menutup Selat Hormuz, mendorong diskusi tentang penggunaan alternatif mata uang. Laporan Lloyd’s List mencatat bahwa Iran mendorong pembayaran kapal tanker dalam yuan. Selain itu, analis Deutsche Bank pada 24 Maret lalu menilai konflik ini bisa menjadi “awal dari petroyuan” dalam konteks global.

Penguatan Yuan dalam Perdagangan Internasional

Dalam setahun terakhir, yuan China mengalami kenaikan signifikan. Melalui Refinitiv, kurs yuan mencapai CNY6,82/US$ pada penutupan perdagangan Selasa (21/4/2026), naik dari sebelumnya sekitar CNY7,29/US$. Pergerakan ini menunjukkan kemajuan dalam penguasaan mata uang asing, meski belum sepenuhnya menggoyahkan dominasi dolar AS.

Transaksi perdagangan China yang menggunakan yuan sendiri mencapai 13,7 triliun yuan atau sekitar US$2 triliun pada 2025, menyumbang 27% dari total perdagangan negara tersebut. Untuk minyak mentah, nilai transaksi dalam yuan pada 2024 mencapai 1,1 triliun yuan, namun hanya sekitar 6% dari total impor minyak dari kawasan Timur Tengah.

Hambatan Utama: Pasar Keuangan China Masih Kaku

Konsep yuan sebagai mata uang global masih menghadapi tantangan besar. Meski transaksi dagang telah menunjukkan pertumbuhan, penguasaan yuan dalam penyimpanan dana internasional belum tercapai. Sistem pembayaran lintas batas China, CIPS, mencatat rekor transaksi harian 1,22 triliun yuan pada pekan lalu, menunjukkan perkembangan infrastruktur. Namun, hal ini belum cukup untuk menjadikan yuan sebagai pilihan utama penyimpanan dana.

Pasar keuangan China masih belum sebebas dan sedalam pasar dolar AS. Sistem neraca modalnya belum sepenuhnya terbuka, sehingga minat investor asing terhadap aset yuan tetap terbatas. Pasar obligasi pemerintah AS sendiri memiliki nilai lebih dari US$30 triliun, sementara kepemilikan asing di pasar obligasi China baru mencapai 1,7%.

Karena itu, naiknya kurs yuan tidak cukup hanya diakibatkan oleh gejolak politik atau transaksi minyak. China harus memperkuat sistem keuangannya agar bisa menjadi tempat yang aman dan menarik bagi dana global. Perjalanan yuan menuju kelas dunia masih memerlukan perbaikan infrastruktur dan kepercayaan pasar internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *