Facing Challenges: Cakupan ASI eksklusif belum merata, ibu bekerja masih hadapi tantangan
Cakupan ASI eksklusif belum merata, ibu bekerja masih hadapi tantangan
Dari Jakarta, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN mengungkapkan bahwa pemberian ASI eksklusif di Indonesia belum merata dan menjadi tantangan bagi para ibu yang bekerja. Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, Wakil Kepala BKKBN, menyebutkan bahwa berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada Maret 2025, sebanyak 72,3 persen bayi usia 0–5 bulan mendapatkan ASI eksklusif. Namun, perbedaan jelas terlihat ketika dibandingkan berdasarkan status pekerjaan orang tua.
Berdasarkan data yang sama, ibu yang bekerja menunjukkan persentase lebih rendah, yaitu 68,57 persen, dibandingkan ibu yang tidak bekerja dengan 74,07 persen. “Dari data ini, diperlukan peningkatan edukasi dan bimbingan untuk memastikan distribusi ASI eksklusif lebih merata di seluruh Indonesia,” ujar Isyana.
Menurut Isyana, peran ayah sangat penting dalam memastikan kelancaran menyusui. Keterlibatan ayah dapat meningkatkan produksi ASI melalui peningkatan hormon oksitosin. “Pengasuhan anak adalah tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu,” tambahnya.
Isyana menegaskan bahwa dukungan untuk ibu menyusui harus ditingkatkan secara menyeluruh, meliputi keluarga, tenaga kesehatan, tempat kerja, hingga masyarakat. Peningkatan manajemen laktasi diperlukan agar ibu memiliki akses informasi, bimbingan, dan dukungan sejak masa kehamilan hingga masa menyusui.
Kemendukbangga/BKKBN terus mendorong penguatan edukasi pengasuhan dan pemenuhan gizi anak di tingkat keluarga melalui tim pendamping keluarga (TPK) dan penyuluh KB. “Peran TPK, penyuluh KB, serta kader di lapangan sangat penting dalam memastikan setiap keluarga memiliki pemahaman dan kemampuan untuk mendukung tumbuh kembang anak,” tuturnya.
Isyana berharap, melalui edukasi dan kolaborasi yang berkelanjutan dari berbagai pihak, pemahaman masyarakat terhadap pentingnya ASI eksklusif dapat semakin meningkat.