Key Discussion: Waskita Karya catat nilai kontrak baru Rp12,52 triliun sepanjang 2025

Waskita Karya Catat Nilai Kontrak Baru Rp12,52 Triliun pada Tahun 2025

Jakarta – Perusahaan konstruksi BUMN PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) mencatatkan kontrak baru senilai Rp12,52 triliun hingga akhir 2025, naik dari Rp9,55 triliun pada 2024. Kontrak ini terutama berasal dari proyek pemerintah, termasuk pembangunan jaringan irigasi, sekolah rakyat (SR), serta Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di berbagai wilayah, yang mendukung Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC).

“Proyek-proyek tersebut menjadi bentuk kontribusi Waskita dalam mempercepat penanggulangan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan, yang menjadi prioritas utama Presiden saat ini. Kami terus berupaya mendukung keberhasilan program pemerintah,” tutur Corporate Secretary WSKT Ermy Puspa Yunita dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis.

Dalam operasionalnya, perusahaan mengelola 63 proyek di seluruh Indonesia, dengan total nilai kontrak mencapai Rp31,7 triliun per 31 Desember 2025. Pendapatan konsolidasi perusahaan pada tahun tersebut mencapai Rp8,85 triliun, berasal dari induk usaha Rp5,75 triliun dan anak usaha Rp3,1 triliun.

Berdasarkan sektor usaha, pendapatan WSKT terbagi atas segmen konektivitas Rp3,3 triliun, Sumber Daya Air (SDA) Rp1,4 triliun, pembangunan gedung Rp1,2 triliun, serta sektor lainnya Rp900 miliar. Sementara itu, beban pokok pendapatan mencapai Rp7,2 triliun atau 82% dari total pendapatan, sehingga laba bruto perusahaan mencapai Rp1,58 triliun, naik 12% dibandingkan Rp1,41 triliun di 2024.

Gross Profit Margin WSKT meningkat menjadi 18% pada 2025, dibandingkan 13% di tahun sebelumnya. Ermy menuturkan, peningkatan ini dicapai berkat strategi efisiensi operasional yang diterapkan, baik di tingkat induk maupun anak usaha.

Secara keseluruhan, perusahaan menurunkan liabilitas sebesar Rp2,21 triliun pada 2025. Fokus utama adalah mempercepat divestasi jalan tol dan mengoptimalkan aset. Pada September, Waskita menyelesaikan divestasi 94,7% saham PT Waskita Sangir Energi (WSE) melalui anak usaha PT Waskita Karya Infrastruktur (WKI). November lalu, 35% saham PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) dilepas oleh PT Waskita Toll Road.

Pada Desember 2025, perusahaan melalui anak usaha PT Waskita Karya Realty (WKR) mendivestasikan 20% saham PT Waskita Modern Realty (WMR). Tujuannya adalah memperkuat likuiditas keuangan dan menyelaraskan portofolio investasi. Selama 2025, perusahaan juga memperketat seleksi kontrak baru, seperti dengan pendekatan pembayaran bulanan dan menghindari proyek turnkey.

“Dengan Komite Manajemen Konstruksi, kami memastikan proyek yang dikelola tidak membebani keuangan dan memiliki risiko rendah,” tambah Ermy.

Kemudian, penurunan utang menjadi prioritas. Master Restructuring Agreement (MRA) dan Kredit Modal Kerja Penjaminan (KMKP) 2021 telah disetujui oleh 22 kreditur perbankan pada Oktober 2024, dengan nilai outstanding mencapai Rp31,65 triliun. Restructurisasi obligasi Non-Penjaminan senilai Rp3,35 triliun juga mendapat persetujuan atas tiga seri dari empat total, melalui Rapat Umum Pemegang Saham Obligasi (RUPO).

Ermy menjelaskan, langkah ini sejalan dengan Rencana Penyehatan Keuangan (RPK) yang ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). “Ke depan, kami berkomitmen untuk kembali fokus pada bisnis kontraktor murni, sehingga operasional lebih berkelanjutan. Inovasi dalam tata kelola dan pengelolaan risiko, termasuk pembentukan komite, diharapkan meningkatkan adaptasi perusahaan terhadap dinamika pasar,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *