Main Agenda: Iran vs AS, Siapa Tahan Paling Lama di Perang Ekonomi?
Iran vs AS, Siapa Tahan Paling Lama di Perang Ekonomi?
Ketidakpastian mengenai akhir konflik Iran dan AS semakin membebani perekonomian dunia. Dengan negosiasi damai yang terhambat dan Presiden AS Donald Trump belum menetapkan tenggat waktu jelas, muncul pertanyaan besar: siapa yang lebih kuat bertahan dalam perang ini? Beberapa indikator menunjukkan bahwa Iran berada dalam posisi yang lebih menguntungkan.
Tanpa memulai serangan besar, Teheran dinilai telah mencapai tujuan utamanya, yaitu mendorong kenaikan harga minyak. Kenaikan ini secara tidak langsung memberikan tekanan kepada AS untuk menawarkan kebijakan lebih fleksibel. Di sisi lain, Trump tetap menunjukkan sikap percaya diri.
“Saya punya banyak waktu, tetapi Iran tidak, waktu terus berjalan! Waktu tidak berpihak pada mereka!”
Namun, dinamika di lapangan menunjukkan gambaran berbeda. Media Iran mulai membahas target potensial berikutnya, termasuk infrastruktur strategis seperti kabel data bawah laut di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan global. Ancaman juga mengarah ke fasilitas energi di Teluk, seperti kilang Ruwais di Uni Emirat Arab (UEA) dan Abqaiq di Arab Saudi, yang merupakan pengolahan minyak terbesar di dunia.
Meski kekuatan militer AS jauh lebih dominan, Iran menerapkan strategi asimetris. Armada kapal kecil mereka terus mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz. Taktik ini efektif dalam jangka pendek, meski berisiko tinggi jika konflik terus berlanjut. Di sisi diplomatik, retorika Trump yang agresif mulai mereda. Klaimnya mengenai kesepakatan hampir tercapai ditolak oleh Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran, yang menyebut Trump “berbohong.”
Ketegangan memuncak setelah Iran mengabsen diri dari pembicaraan di Islamabad. Seiring itu, militer AS dilaporkan mencegat lebih dari 30 kapal sejak memblokir pelabuhan Iran. Namun, Iran tetap menunjukkan perlawanan. Minimal lima kapal dilaporkan diserang di jalur perdagangan strategis tersebut. Ghalibaf menguatkan posisi negaranya dengan menyatakan,
“Musuh telah dikalahkan secara strategis.”
Iran kembali mengandalkan strategi diplomasi yang lambat namun pasti. Mereka menolak negosiasi di bawah tekanan, sekaligus mempertahankan ruang manuver di belakang layar.
“Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman.”
Perang ini kini juga memengaruhi pasar global. Pergerakan harga minyak dan ketidakstabilan ekonomi dunia menjadi cerminan nyata dari tekanan yang berlangsung.