Special Plan: Komisi VII minta “start up” dongkrak TKDN tingkatkan ekonomi nasional
Komisi VII Dorong Start-up Tingkatkan TKDN untuk Meningkatkan Ekonomi Nasional
Di Kabupaten Bekasi, Komisi VII DPR RI mengajak perusahaan-perusahaan rintisan atau “start up” yang baru memulai investasi di Tanah Air untuk berkontribusi pada peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Ketua Komisi VII, Saleh Partaonan Daulay, menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan baru ini memiliki potensi besar untuk meningkatkan komponen lokal dalam produksi, sekaligus mendukung perekonomian nasional. “Kita berharap TKDN bisa mencapai 40 hingga 60 persen, bahkan bisa 100 persen berasal dari dalam negeri,” ujarnya saat melakukan kunjungan kerja spesifik ke PT. QJMotor Manufacture Indonesia di Kawasan Industri GIIC Cikarang, Jawa Barat, Kamis.
Status TKDN Saat Ini dan Target Peningkatan
Menurut Saleh, perusahaan yang dikunjungi saat ini memiliki TKDN sekitar 20 persen. Ia menekankan perlunya peningkatan bertahap hingga mencapai 60 persen. Jika berhasil, seluruh bagian produk akan diproduksi secara mandiri di Indonesia. Ia menambahkan, kenaikan TKDN diharapkan dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Saat ini, aktivitas perusahaan masih didominasi perakitan menggunakan bahan baku impor, sehingga jumlah tenaga kerja yang terserap terbatas. Namun, jika produksi dilakukan sepenuhnya di dalam negeri, peluang kerja akan meningkat drastis.
Karena ini perusahaan baru, kita berharap TKDN-nya bisa meningkat menjadi 40 hingga 60 persen, bahkan kalau bisa seluruhnya buatan Indonesia,” kata Saleh.
Strategi Penguatan Ekosistem Industri
Komisi VII juga mendorong kolaborasi antara sektor industri dan pemerintah dalam pengembangan kendaraan listrik. Langkah ini dianggap selaras dengan upaya transisi energi nasional. “Motor listrik menjadi produk unggulan yang perlu dikembangkan, terutama di tengah ketidakpastian kondisi global. Kita membutuhkan alternatif energi,” jelas Saleh.
Komitmen Perusahaan untuk Manufaktur Lokal
Di sisi perusahaan, Bintang Dewan Toro, Factory Division Head PT. QJMotor Manufacturing Indonesia, menyampaikan rencana jangka panjang untuk memperluas produksi di Indonesia. Saat ini, perusahaan berada pada tahap perakitan, namun dalam tiga tahun mendatang ditargetkan beralih ke manufaktur penuh, termasuk proses stamping, welding, dan painting. “Kami tidak hanya akan merakit, tetapi juga memproduksi komponen secara lokal. Ini bagian dari komitmen kami untuk meningkatkan investasi dan lapangan kerja,” katanya.
Kami tidak hanya akan merakit, tetapi juga memproduksi komponen di dalam negeri. Ini bagian dari komitmen kami untuk meningkatkan investasi dan penyerapan tenaga kerja lokal,” kata Bintang.
Dalam rangka pengembangan ekosistem industri, perusahaan tersebut telah menjalin kerja sama dengan 25 diler di seluruh Indonesia dan menargetkan peningkatan jumlah hingga 50 diler pada tahun ini. Di sisi produk, QJMotor juga berfokus pada kendaraan listrik dan motor dengan teknologi pintar, termasuk fitur perintah suara. Selain itu, perusahaan telah bekerja sama dengan layanan transportasi Grab, dengan penyaluran sekitar 5.000 unit kendaraan.
Dukungan Pemerintah untuk Penguatan Industri
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, Setia Diarta, mengapresiasi langkah perusahaan menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi. Ia menyatakan pemerintah akan terus mendorong industri beralih dari tahap perakitan (CKD) ke manufaktur penuh untuk memperkuat kemandirian sektor manufaktur. “Pemerintah sangat senang dengan investasi seperti ini. Ke depan, yang penting adalah bagaimana ekosistem industri bisa berkembang dan TKDN terus meningkat,” ujarnya.
Pemerintah sangat senang dengan adanya investasi seperti ini. Ke depan, yang penting adalah bagaimana ekosistem industri bisa berkembang dan tingkat komponen dalam negeri terus meningkat,” ujarnya.