Warga keluhkan rusaknya JPO Terminal Rambutan

Warga keluhkan rusaknya JPO Terminal Rambutan

Jakarta Timur, Ciracas – Jembatan penyeberangan orang (JPO) di Terminal Kampung Rambutan, kawasan terminal bus antar kota antar provinsi, disebut rusak parah oleh warga sekitar. Kondisi ini sudah memprihatinkan selama beberapa tahun, menurut salah satu penduduk, Sarah (29), yang mengungkapkan keluhan tersebut pada hari Kamis. “Kita benar-benar merasa cemas, karena sudah lebih dari dua atau tiga tahun kondisi JPO tidak membaik. Bukan hanya sekarang, tapi sudah lama,” jelas Sarah.

Kerusakan Fisik Menimbulkan Risiko

Menurut Sarah, struktur JPO yang aus menyebabkan pengguna enggan memanfaatkannya. Alas jembatan yang retak serta fondasi yang goyah dinilai berpotensi membahayakan keselamatan pejalan kaki. “Saya sendiri merasa takut melintasinya. Alasnya amblas, dan struktur mulai goyah. Banyak orang tidak mau menggunakan JPO,” ujar warga tersebut.

“Lihat saja kondisinya. Orang sudah enggan melewatinya. Alasnya sudah longgar, dan saya sendiri merasa cemas,” tutur Sarah.

Kondisi Atap dan Kebersihan JPO

Selain kerusakan struktural, kondisi atap JPO juga disebut tidak terawat. Bagian atap yang rusak membuat jembatan terlihat kotor dan tidak layak. “Dulu ada atapnya, sekarang sudah banyak yang hilang. Jembatan terlihat begitu saja dibiarkan rusak,” katanya.

Aktivitas Sosial di JPO Menimbulkan Gangguan

Warga menyoroti bahwa JPO tak hanya berisiko secara fisik, tetapi juga jadi tempat berkumpul dan tidur sepanjang sore hingga malam. Hal ini dianggap mengganggu ketertiban. “Kalau malam hari, banyak orang berkumpul dan tidur di situ. Mereka yang tidak jelas identitasnya, dan kadang ada yang mabuk,” kata Sarah.

Pengelolaan JPO Diserahkan ke Bina Marga

Kepala Terminal Bus Kampung Rambutan, Revi Zulkarnain, mengklaim bahwa pengelolaan JPO berada di bawah kewenangan Bina Marga. “JPO itu bukan ranah kami, tapi Bina Marga yang mengurus,” jelas Revi.

Di sisi lain, Heru (44), warga lainnya, mengkritik perencanaan awal JPO yang kurang mempertimbangkan kebutuhan pengguna. “Penggunaan tangga justru memudahkan orang lanjut usia. Mereka takut naik, apalagi yang sudah lelah,” ungkap Heru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *