Important Visit: Bertahan di tanah leluhur, berdamai dengan lumpur
Bertahan di Tanah Leluhur, Berdamai dengan Lumpur
Di Pidie Jaya, sisa banjir bandang Krueng Meureudu masih menghiasi dinding rumah yang kusam, sekaligus mengubah rutinitas warga menjadi lebih berat. Kehidupan di wilayah tersebut belum benar-benar pulih, dan belasan ribu penduduk memilih untuk tetap tinggal. Bagi mereka, tanah leluhur adalah tempat yang tak bisa ditinggalkan meski bahaya terus mengancam.
Keluarga Cut Nurjannah (40) adalah salah satu contoh. Ia dan anak-anaknya harus berjalan dengan berat di atas lapisan lumpur yang menyisakan banjir bandang. Akses utama ke rumahnya di Desa Meunasah Raya, Kecamatan Meurah Dua, masih tergenang, sehingga mereka memakai jalur alternatif melalui kebun warga yang kini menjadi jalan pintas. Jalur itu penuh dengan gundukan tanah, kayu berserakan, dan parit dari kerukan ekskavator.
“Abang jangan ganggu adik, ayo cepat, bentar lagi magrib,” ujar Nurjannah kepada anak-anaknya, Sabtu (4/4/2026) sore.
Sejak bencana banjir bandang pada November 2025, warga memutar lewat belakang rumah. Rumah panggung mereka, berlantai papan warisan orang tua, nyaris tak bisa dibersihkan dari lumpur. Meski kondisi itu menguras tenaga, Nurjannah dan keluarganya tetap menolak pindah ke tempat sementara.
Nurjannah menyadari banjir tahun ini berbeda dari sebelumnya. Genangan air disertai dengan pohon yang terlempar dan lumpur yang mengendap dalam jumlah besar. Trauma mengusik dirinya dan anak-anaknya, tetapi keinginan untuk bertahan hidup mengusir kekhawatiran itu perlahan.
Di tengah desa yang masih dalam kekacauan, rumah tetap menjadi ruang paling aman. Meski pemerintah terus menawarkan relokasi, Nurjannah dan banyak warga menolak. “Ke mana lagi kami pergi? Di sinilah tempat tinggal kami,” tegasnya.
Pindah bukan sekadar berganti tempat tinggal, tetapi juga mencabut mata pencaharian yang menopang kehidupan mereka turun-temurun. Bertahan di kampung halaman berarti menjaga tumpuan harapan. Baginya, warga telah terbiasa dengan siklus bencana, namun tetap berharap musibah seperti tahun lalu tak terulang.